🏘️ Pondok Baru untuk Santri Lama👳

By

🏘️ Pondok Baru untuk Santri Lama👳

Rakaat terakhir sholat Magrib yang diimami Sang ustadz, menghantarkan sendu di jamaah santriwati. Terdengar isak tangis  tertahan di lirih suara dan senggukan hidung mereka.

Tangis itu seketika pecah, saat sang ustadz menyapa selesai sholat, “Ini rumah kalian sekarang….”

Saya, di antara shaf sholat mereka di masjid khusus santriwati.

Hhmm … Mungkin itu pula yang dirasakan anak saya di masjid di ujung sana.

Si sulung memang bukan pendatang baru di dunia pesantren. Tapi saya melihat beberapa perubahan yang harus bijak disikapi.

Di penghujung libur panjang kemarin, dia terlihat mulai agak gelisah. Kadang berkata pada saya, “Yah, sebentar lagi masuk” atau ” Mi, aku pengen tetap di HK2.”

(HK2 adalah ponpes saat MTS-nya. Iya, hanya ada tingkat MTS (Madrasah Tsanawiyah/ setingkat SMP) dan khusus Ikhwan/laki-laki. Kini naik ke MA (Madrasah Aliyah/setingkat SMA), dia pindah ke ponpes induknya. Di sana ada berbagai jenjang, dari MTS hingga STAI) dan ada untuk akhwatnya walaupun tak berbaur.)

Dia, tiba-tiba mudah tersulut marahnya.  Dia, anak laki-laki, yang ngemong ke adik-adik, yang perhatian sama umminya, yang bisa disuruh ke pasar, nyapu rumah, jaga dan mandiin adik, keluarin atau masukin motor umminya, kemudian menjadi marah besar saat hanya mendengar adiknya berisik, rewel atau berantakin rumah. Padahal sebelumnya biasa saja.

Ternyata saat kami wawancara, ustadz menyampaikan pada kami hal-hal yang biasa dihadapi saat kepindahan sekolah ini. Antara lain adalah “Post Power Syndrome”.

Lho? Apa hubungannya?

Jadi, jika dulu di sekolah asal dia sudah berada di kelas paling atas, yang dihormati, dimintai pendapat atau membimbing belajar adik kelas, namun di sini dia akan menjadi anak bawah lagi. Segala ketentuan sebagai adik kelas menempel lagi padanya.

Untuk mereka yang tidak siap menyikapi keadaan ini, tentunya bisa menjadi masalah. Terbukti, sampai ustadz memiliki penekanan penting pada hal ini.

Subhanallah, dari sini saja kita dan anak kita diajarkan “LEGOWO“, menerima dan menjalani kenyataan bahwa roda hidup ini berputar.

Bisa di atas, dengat tetap mengikat diri untuk tidak sombong karena saat roda melaju, posisi ini kan berubah.

Bisa di tengah, lalu menguatkan pegangan kehati2an. Karena bisa jadi naik atau turun.

Bisa juga di bawah, menahan beban yang tak ringan, namun harus kuat agar tak hancur.

Begitulah dinamikanya. Apalagi masa ini terjadi saat mereka remaja, saat dimana emosi memang melompat-lompat cepat.

Awalnya tak terpikir ke arah ini, saya hanya menyangka mungkin liburnya terlalu lama, jadi untuk berpisah lagi terasa berat.🤗🤗😍

Satu lagi yang saya ambil pelajaran dari pesantren ini adalah pemberian nama asrama.

Sewaktu MTS, mereka adalah anak2 yang baru lepas dari dekapan orang tuanya. Nama-nama asrama mereka  menggunakan nama sahabat seperti Ustman bin Affan, Abu Bakar Siddiq, Umar Bin Khattab dll. Kini di MA, nama asrama menjadi Umaro dan Fuqoha.

Buat saya ini menarik. Tak mungkin pihak pondok sekedar memberi nama. Ini juga yang membuat bersyukur anak-anak bisa berada di pesantren.

Hikmah nama ini bagi saya adalah:

Pertama, Anak-anak yang baru menjadi santri akan dididik untuk menjadi pribadi2 santun dan hebat seperti para Sahabat Nabi.

Selanjutnya, di MA ini mereka dididik untuk bisa menjadi seorang yang akan tampil dan membimbing.

MasyaAllah. 💝

Nak, kelak kau akan menjadi umaro seperti nama asramamu kini (minimal untuk diri dan keluargamu). Bersiaplah!

Lamunan sang ummi tentang sulungnya berakhir di sini, hari sudah semakin larut. Kami harus pulang. 🚙🌇

Sekarang rumah ini kembali sepi. Mereka sudah kembali ke pesantren masing-masing.  Cerita-cerita pondok si sulung dan adiknya yang seru, lucu, aneh dll, mungkin baru bisa kudengar lagi enam bulan ke depan.

Sebelum kembali ke pondok, dia minta dibuatkan makanan enak. Siang itu, saya masak chicken teriyaki, oseng toge dan tahu balado. Mereka menyantap dengan semangat.

“Mi, klo aku tambah lagi boleh?” Tanyanya.
“Boleh… Boleh banget. Ummi seneng klo masakan ummi habis.”
Bbbrrrrrr… Langsung mereka berhamburan mengamankan lauk pauknya.😅😍😍

Malamnya, saya buatkan SIGOBING alias nasi goreng kambing. Bukan menyengaja, tapi menghabiskan nasi dan sate kambing yang tersisa.🙊😁

Menu sederhana yang “istimewa” itu menjadi menu terakhir yang ummi suguhkan.
Sebelum esok kamu mengenyam  “kesederhanaan”.

Barakallahu lakum

#SekolahBaruAnakku
#Challenge
#MarkasPejuangLiterasi

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like