IZINKAN AKU BERMAIN DI LUAR, BU.

By

Pagi yang cerah. Semburat cahaya mentari melewati kisi jendela kamar. Farhan menatap nanar dari balik kaca jendela ke arah lapangan yang letaknya persis di depan rumahnya. Riuh rendah suara anak-anak yang tengah bermain membuatnya iri. Sebagian anak hanya sekedar duduk di tepian lapangan, menyoraki teman lainnya yang sedang mencoba menendang bola ke arah gawang.

Tak jauh dari lapangan, terlihat beberapa anak yang tengah asyik berlari, saling mengejar dengan ekspresi penuh keceriaan. Namun yang paling membuat Farhan enggan beranjak dari tempatnya -walaupun berkali kali ibunya memanggil untuk sarapan- adalah pemandangan di lahan berumput dan berbukit sebelah lapangan, dimana terlihat beberapa anak sedang asyik mengayuh sepedanya sambil tertawa gembira.

Sayang sekali, ibu termasuk tipe orang tua yang over protective. Merasa Farhan masih kecil -baru empat tahun- dan takut jika anaknya itu malah terluka saat bersepeda, maka ia memutuskan untuk menunda dulu membelikan sepeda untuk Farhan. Dan yang membuat Farhan semakin merasa bersedih adalah, ia tidak diizinkan untuk ikut bermain bersama teman temannya itu. Ibunya ragu jika Farhan bisa menahan diri dan tidak tergoda untuk mencoba saat melihat teman temannya-yang jauh lebih besar darinya- tengah asyik bersepeda.

Maka di sinilah Farhan. Hanya bisa menatap penuh iri pada teman-temanya yang terlihat begitu riang gembira, bermain bersama, menikmati hari dalam keceriaan.

“Farhan… Kok ibu panggil dari tadi diam saja?” tiba-tiba sosok ibunya sudah berada di depan pintu kamarnya. Farhan tergeragap.

“Lagi lihat apa sih?” Tanya ibu sambil berjalan mendekati Farhan. Ibu melongokkan kepala ke arah luar jendela. Ibu terdiam sesaat. Ada rasa bersalah yang tiba tiba menyelusup ke dalam hatinya.

“Farhan mau ikut main sama teman teman ya?”
Farhan mengangguk ragu… Takut-takut kalau jawabannya bisa memancing kemarahan ibu.

Ibu mengusap rambut Farhan dengan lembut. “Maafin Ibu ya, Sayang. Ibu sudah membuat keputusan yang membuat Farhan justru bersedih. Ibu hanya terlalu sayang sama Farhan. Ibu tak mau melihat Farhan terluka dan menangis. Ibu hanya mencoba menjaga dan melindungi Farhan. Tapi sepertinya Ibu sudah membuat keputusan yang keliru. Malah Ibu sudah bertindak jahat dengan aturan yang justru bisa melukai fitrah tumbuh kembangmu. Maafin Ibu ya…” Ibu merangkul Farhan sangat erat.

Farhan tak begitu paham dengan ucapan ibunya, namun ia dengan senang hati membalas pelukan ibu dengan penuh cinta.

“Ibu sayang Farhan…”
“Farhan juga sayang Ibu…”
“Farhan sarapan dulu ya, nanti boleh main bareng teman-teman…”

Kesedihan yang sedari tadi bergelayut di wajah Farhan, sekonyong-konyong berganti keceriaan.
“Beneran, Bu?” Ucapnya mencoba mencari kepastian.
Ibu mengangguk sambil melemparkan senyum terbaik.
“Asyiik….” soraknya seraya melonjak-lonjak kesenangan.
“Yuk, sarapan dulu…”
Tanpa menunggu ajakan untuk kedua kalinya, Farhan segera berlari kegirangan menuju ruang makan.

Setelah menghabiskan seporsi nasi goreng dengan lahap, Farhan segera merapikan piringnya dan membawanya ke tempat cuci piring.

“Bu, Farhan boleh main, sekarang?”
Ibu menganggukkan kepala, “Iya, Sayang. Tapi ingat, harus hati-hati ya…”
“Siap, Boss,” ucap Farhan jenaka.

Farhan segera berlari menuju lapangan.
Ibu mengikutinya hingga gerbang pagar. Walau berat, ibu mencoba memberi kepercayaan pada Farhan. Walau tak ikut menemani, ibu tetap siaga memperhatikan dari serambi rumah.

“Hati-hati ya, Nak,” teriaknya pada Farhan yang tengah berlari menuju lapangan.
“Iya, Bu.”

Tak lama, Farhan pun sudah bergabung dengan teman lainnya. Ia tampak begitu menikmati keceriaan pagi ini. Apalagi saat kak Ilham -tetangga samping rumah yang yang terpaut usia 4 tahun di atas Farhan- menawarinya untuk berboncengan naik sepeda miliknya. Farhan sangat senang, walaupun hanya dibonceng, karena ia memang belum bisa naik sepeda sendiri.

Farhan dan Ilham pun bersepeda dengan riang. Melewati pepohonan rimbun di tanah berumput. Menikmati pemandangan berbukit yang indah di sekitar. Menikmati sepoi angin yang berhembus lembut menyentuh kulit. Menggerakan dedaunan pada pepohonan di sekitar mereka sehingga tampak bergoyang goyang, menambah keceriaan pagi ini.

#challengePL

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like