Tasbih cinta

By

Rutinitas harianku adalah sebagai guru tahfidz di sebuah lembaga tahfidz.

Hari ini ketika menyimak tiba-tiba badanku terasa panas sekali, aku masih belum yakin, aku pegang – pegang wajah dan leher beberapa kali, iya ini demam batinku, tapi aku masih berusaha menyimak tapi apa daya demam yang dirasakan membuat kurang fokus dengan bacaan yang sedang aku simak, bahkan harusnya aku tegur karena salah, tak sempat ku tegur.
Ingin izin ditengah-tengah halaqoh, tapi melihat ibu-ibu ( aku di sini menyimak kumpulan ibu-ibu yang ingin menghafal Al Quran) begitu semangat ingin menyetor, akhirnya aku usahakan bertahan sampai halaqoh selesai, alhamdulillah.

Setelah selesai menyimak, aku cepat-cepat ke asrama dan sholat dhuhur ( kegiatan menyimak sampai dhuhur ), panas di badan semakin aku rasakan, selesai sholat aku tak sempat lagi makan dan tidak nagsu juga, aku hanya ingin tiduran dan selimutan , aku mulai putar murottal Misyari Rasyid di hp dan mengambil tasbih warna biru di keranjang, yups itu kebiasaan ketika sakit yang aku dapat ketika waktu SMA dulu di pondok Al Muayyad Solo, sebagian santriwati disana sering sekali bawa tasbih ketika sakit atau menjelang tidur atau ada juga yang kemana-mana bawa tasbih kecil, aku bilang sebagian karena memang tidak semua ya. Entah kenapa itu masih melekat sekali di ingatan ini.

Kalau aku pribadi, ada rasa nyaman ketika kita sakit, dipakai untuk berdzikir, apalagi aku ingat Dr.zaidul pernah bilang kalau kamu sedang sakit yang kamu lakukan pertama kali adalah bertaubat, banyakin istighfar, dengan memegang tasbih mengingatkan aku untuk berdzikir ketika lupa.
Selain itu, ketika sakit, pasti akan banyak tiduran, daripada kita hanya terbengong atau malah mainan hp, maka memegang tasbih akan mengharuskan aku untuk selalu berdzikir.

Bersyukur, Allah menjadikan aku banyak beristighfar hari ini lewat demam ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like