Sabar

By

Rosi menarik napas panjang kemudian dihembuskannya perlahan. Belum ada sepuluh menit dia meninggalkan Arya untuk sekedar memasak brokoli kesukaannya, namun ruang tamu itu sudah seperti kapal pecah. Mainan berserakan dimana-mana, ditambah jajanan kemasan yang tercecer di lantai dan mengundang semut-semut untuk datang. “Bunda, Arya bosan di rumah” Rengeknya ketika Rosi datang menghampiri
“Lho Arya kan tadi habis main di luar”
“Tapi Arya bosen di rumah ga ada temen”
Rosi menghela napas, mencoba tetap tenang meskipun tubuhnya sangat lelah
“Kan ada bunda, Arya bisa main sama bunda, mau main apa sekarang?
“Main mobil-mobilan”
“Oke, tapi sambil makan ya?” Bujuk Rosi. Sedari pagi perut Arya memang belum terisi nasi, dia hanya mau jajanan kemasan dan susu uht. Rosi kuatir kejadian kemarin terulang, hingga sore Arya tak kunjung mau diajak tidur siang karena perutnya yang lapar namun tidak mau makan makanan berat.
“Sebentar ya bunda ambil brokolinya dulu” Ucap Rosi sambil berlalu ke dapur mengambil nasi dan brokoli kriuk kesukaan Arya.
“Bunda, Arya boleh minjem hp?” Tanya Arya sebelum Rosi menyuapkan sendok ke mulutnya
“Buat apa dek? Enakan main mobil-mobilan, nih brem..brem..brem..” Rosi berusaha mengalihkan pertanyaan Arya dengan memainkan mobil-mobilannya.
Arya tak habis akal menanggapi ajakan Rosi “Tapi Arya bosen main mobil-mobilan Bund”
Rosi menggaruk-garuk kepalanya, “Arya mau minjem hp bunda? Emang mau apa?”
“Mau nonton bis di yutub”
“Hm..yaudah tapi sambil maem ya, habis itu Arya bobo, ga boleh lama-lama liat hapenya”
“Nanti kayak orang gila ya bund?”
“Iya, nanti matanya rusak kalo nonton hape lama-lama”
“…ayo sambil maem, bismillaahirrohmaanirrohiim, Allaahumma baariklanaa fiima rozaqtana waqina ‘adzaabannaar”
Suapan pertama berhasil. Sering Rosi terpaksa akhirnya mengijinkan Arya memakai handphoneny agar dia mau makan, meski itu hanya setengah sendok teh untuk sekali suap. Entah ada masalah apa hingga Arya seringkali muntah jika makan agak banyak. Menurut salah seorang terapis, ada masalah pada tulang ekor Arya sehingga mempengaruhi sistem pencernaannya. Jadi untuk mencegah muntah, Rosi hanya memberinya suapan mini, yakni maksimal setengah sendok teh. Tentu saja ini membuat durasi makan menjadi lebih lama dari balita umumnya.
Baru tiga suapan Arya sudah menolak untuk makan. Kenyang katanya. Duuh..keluh Rosi.
“Kalo gitu sekarang bobo ya, hapenya udah dulu” Bujuk Rosi sambil berusaha mengambil handphone miliknya yang tengah dipegang Arya
Engggh..Arya menampik tangan Rosi
“Udah ya hapenya, kan Arya udah ga mau maem”
Bukannya memberikan handphone, Arya malah berpindah ke kamar lain dan menutup pintunya. Akhirnya Rosi memutuskan untuk sholat dzuhur sementara Arya memainkan hapenya.
Baru hendak takbir rokaat pertama, terdengar teriakan Arya, “Bunda..ini gimana, koq ga bisa”
Rosi berusaha tetap tenang dan melanjutkan sholatnya
“Bunda..! Koq ga bisa sih”
Mendengar hal itu, ingin rasanya Rosi bilang, tunggu ya, bunda lagi sholat.
“Bunda…Arya kan manggil Bunda, koq ga dateng-dateng..” Tiba-tiba Arya sudah berada di samping Rosi dan melempar handphone miliknya ke sajadah. Rosi mempercepat sholatnya, pikirannya tentu saja sudah tidak fokus sekarang. Rosi menangis dalam hati, kemarin truk panjang yang baru saja dibeli dia banting, sekarang hape, besok apalagi. Untung dia lagi puasa, kalau tidak pasti Arya sudah habis-habisan dia marahi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like