Tak Sebatas Cinta

By

Kita lanjutkan sharing yang kemarin ya sahabat…

Setelah mendapatkan kesempatan belajar tentang keikhlasan dalam kehidupan ini, dan sampai kapanpun aku akan tetap belajar iklash.
Next, yang kedua adalah tentang memaafkan…maafkan semua yang membuatmu bersedih atau memendam rasa ketidakterimaan akan suatu hal, sebenarnya tak ada yang perlu di pendam, semua akan terlihat baik kalau kita menganggapnya baik, atau sebaliknya semua akan terlihat menyedihkan ketika kita ada rasa tidak terima.

Dalam hal ini, ada sebuah cerita, seorang mahasiswi sekaligus hafidzoh. Waktu itu dia sedang asyik dalam menyelesaikan kuliah dan hafalanya, tiba saatnya beberapa tawaran ikhwan mulai datang, saat itu dia masih merasa antara percaya atau tidak, antara terima atau tolak, nikah atau kuliah dan menyelesaikan hafalan, “Ya Allah yang datang insya Allah orang yang sholeh, kan tidak boleh di tolak” pekik dia, jadi ingat sebuah hadist, pokoknya semua bayang-bayang itu berputar di atas kepala dia bagaikan burung yang sedang mengelilinginya.

Dia berusaha merebahkan badan, tapi pun tak membuat matanya bisa terpejam atau pikiranya bisa sejenak melupakan masalah itu, kata-kata orang tuanya masih terngiang-ngiang ” Ketika ada ikhwan yang datang itu bisa jadi sebuah karunia atau sebuah cobaan dek, akan menjadi sebuah karunia kalau dia datang tepat waktu dan memang jodoh, dan akan menjadi cobaan ketika dia datang di waktu yang belum tepat. Dan sekarang kan kamu masih kuliah, hafalanmu juga belum selesai ” kata ayahnya. Apakah dia bisa menerima langsung kata-kata ayahnya? Tidak, ada proses yang panjang untuk benar-benar memahami nasehat ayahnya dan dengan amanah-amanah yang harus dia tunaikan.

Hingga kejadian yang hampir sama terulang berkali-kali, puncaknya sampai suatu saat ketika kuliah dan hafalan Al Quranya sudah selesai, ayahnya sudah memberikan izin ,tapi yang diharapkan tak kunjung nampak juga.

Perasaan tidak terima mulai muncul, ada celah yang digunakan syeithon untuk memberikan bisikan-bisikan untuk menyalahkan orang tua, coba kalau dari dulu orangtua tidak terlalu keukeuh aku harus selesai ini itu, astaghfirullah. Tapi disisi lain dia paham orangtuanya tidak hanya sekedar menyuruh dia untuk selesai, tapi mereka begitu sabar memahamkan dia yang berfikirnya memang belum terlalu matang, orangtuanya berpesan, “kita tidak bisa membekali apa-apa untuk masa depan kamu, apalagi harta, yang bisa orangtua lakukan adalah membekali kamu dengan ilmu, dengan cara menyekolahkan kalian, suatu saat kamu akan pahak nak, sabar yaaa” , dan masih banyak sekali nasehat-nasehat yang sangat membekas di dalam hatinya sampai saat ini.

Perang dalam dirinya masih terus berlanjut, kadang dia menerima tapi kadang muncul lagi rasa tidak terima, kadang menyalahkan dirinya sendiri, orangtua atau pihak-pihak lain, dan mungkin ada faktor-faktor pendukung lainya, yang membuat dirinya sering berkeluh, andai saja dulu tidak begitu. Tapi dia selalu meminta petunjuk kepada Allah, “Berikan jalan yang terbaik ya Allah” , dalam perenunganya dia tidak ingin terkepung terus dalam suasana seperti itu, hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah petunjuk yang membuat hatinya lebih tenang dan sejuk, “Sepertinya aku harus memaafkan semuanya, karena semua yang terjadi dalam hidup bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk mendapatkan pelajaran berharganya yang bahkan tak semua orang mendapatkannya, hanya Allah yang berkehendak memberikan hikmah itu.

Dia masih bertanya-tanya kenapa saat itu sampai muncul rasa menyalahkan orangtuanya, dengan dia tahu semua niat dan tujuan orangtuanya adalah untuk kebaikanya, “bukan mereka yang salah, tapi aku saja yang masih belum dewasa memahami kehidupan ini, sekali lagi aku bersyukur kepada Allah, atas ni’mat yang tiada terhingga ini, kasih sayang Allah yang memberikan pelajaran hidup untuk meningkatkan keimanan dalam hati ini, dan orang tua yang selalu menyayangiku”.

Itu salah satu kisah, tentang bagaimana memaafkan, tak mudah memang, tapi bukan mustahil juga, perbanyaklah meminta kepadaNya hati yang bahagia, lapang dan tenang.
Bisa jadi baktimu kepada orangtua, mendatangkan laki-laki yang sholeh dan baik.
Semuanya akan terlihat baik, kalau kita melihatnya baik

Hey kamu, mungkin suatu saat aku akan bercerita perjalananku ini, sebuah perjalanan sebelum bertemu kamu adalah bentuk kasih sayangNya kepada aku dan kamu, agar suatu saat  kita siap bersatu karena Allah bukan karena nafsu.

Tunggu pembahasan next berikutnya yaa

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like