3 Tahapan Lanjutan Menulis Buku Non Fiksi

By

Materi by Ndan Hessa Kartika

Setelah kita belajar lima hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai naskah non fiksi, kini kita lanjutkan dengan 3 tahapan berikutnya untuk tuntas menulis buku non fiksi impian. Apa saja?

3 Langkah Menuju Buku Non Fiksi

1. Buat Bagian Naskah Selengkap Mungkin

Susun tulisan atau buku non-fiksi pasukan serapi mungkin. Jangan lupa untuk membuat catatan kaki jika banyak menggunakan istilah asing. Sebutkan juga sumber data dan tabel yang disebutkan sebagai bentuk pendukung. Dalam tulisan jurnal ilmiah biasanya akan ditulis secara rinci daftar pustaka yang dijadikan sumber.

Membuat sinopsis dan outline bukanlah pilihan, akan tetapi keharusan. Kenapa demikian?
Karena salah satu cara termudah untuk mengatur pemikiran pasukan adalah dengan menciptakan garis besar dari konten tulisan atau daftar isi buku. Kerangka yang lebih mendetail juga akan membantu pasukan untuk fokus pada riset terhadap beberapa aspek tertentu dari topik atau subjek yang pasukan pilih.

Silakan membuat poin-poin dengan topik utama dan sub-topik atau judul (heading) di bawah topik utama tersebut. Sebagai contoh, untuk buku tentang kroisan, tema utamanya mungkin kroisan dan sub-topik dari tema tersebut adalah: Awal mula/Sejarah, Perkembangan, Pembuatan kroisan standar, dan Variasi kroisan terkini.

Pasukan juga bisa membuat bagan berisi topik dan sub-topik, lalu tambahkan anak sub-topik di bawah bagian sub-topik. Cobalah untuk mengembangkan ide seluas mungkin dan tuliskan semua hal (meskipun terasa sedikit melenceng) yang bisa dijadikan sebagai sub-topik.

Menyusun sinopsis dan outline juga bisa dilakukan dengan “brainstorming tema”. Apalagi itu?

Setelah membaca tuntas semua referensi, dan juga mencatat dan menandai bagian-bagian yang terpenting, maka dengan begitu kita akan semakin mudah untuk mendapatkan tambahan-tambahan ide dari tema utama yang sudah kita tentukan, karena otak kita sudah dipenuhi dengan wawasan seputar tema yang sudah kita tentukan tersebut. Tambahan-tambahan ide tersebut akan semakin memperluwes kita untuk melakukan brainstorming pemetaan tema.

Cara dari brainstorming pemetaan tema adalah dengan mencatatkan semua yang ada di otak kita mengenai tema yang sudah kita tentukan tersebut. Catatlah di mana saja. Boleh di kertas, atau langsung di komputer. Catatlah kata kunci apa saja. Ketik semua ide yang muncul di kepala. Tidak perlu mengurutkan. Ide yang pasukan ketik bisa berupa kata kunci, frasa, fakta, atau pertanyaan penting mengenai tema tersebut. Pokoknya catatlah apa saja lintasan yang ada di pikiran yang akan kita tulis di naskah nantinya.

Setelah semua ide tersebut diketik, bacalah ulang dan seleksi mana yang akan dipertahankan, dibuang, atau malah ada yang mau kita revisi. Setelah itu kelompokkan ide yang berkaitan antara satu dan yang lain dalam satu kelompok. Setiap kelompok merefleksikan satu pokok pikiran yang akan kita tulis, dan satu pokok pikiran tersebut akan menjadi satu bab utuh.

Setelah dikelompokkan, urutkan semua pokok pikiran yang terdapat dalam kelompok tersebut, dan aturlah sedemikian rupa versi kita sendiri. Tentukan mana yang menjadi bagian pembuka, isi, dan penutup. Di sini, seakan-akan kita sedang membuat “daftar isi awal” naskah.

Baca kembali urutan pokok pikiran tersebut. Urutkan dan tambahkan keterangan tambahan untuk detail bila diperlukan. Bila pokok pikiran tersebut memerlukan data tambahan, baca referensi lagi seperlunya. Itu akan semakin memperkaya lagi naskah kita.

2. Cuuuz … Saatnya Menulis

Sekarang, saatnya menuliskan berdasarkan pemetaan atau pun outline yang sudah pasukan buat. Jangan lupa untuk selalu menyediakan referensinya di sisi samping tempat pasukan menulis. Saat sewaktu-waktu pikiran mulai mampet, bacalah referensi lagi untuk mendapatkan pencerahan.

Jadilah diri sendiri dalam menulis. Tak perlu mengikuti gaya penulis lain. Menulislah seperti kita tengah berbicara dengan pembaca. Oleh karena itu, berbicaralah yang nyaman dan mengasikkan, sehingga lawan bicara kita juga betah saat mendengarkan buah-buah pikiran yang kita keluarkan. Jadilah seorang yang gigih

Kegigihan adalah salah satu kunci kesuksesan pasukan menulis buku non fiksi. Semakin pasukan melakukan dengan baik, akan semakin bagus pula hasilnya. Jangan pernah menyerah dengan rencana pasukan. Selesaikan Apa yang Pasukan Pilih.

Milikilah pendekatan cara menulis masing-masing, agar kegiatan menulis buku non fiksi tidak membosankan. Buatlah segalanya menjadi fun dan happy. Hindari pertarungan batin yang bisa merendahkan kreativitas. Hargailah tulisan sendiri, seperti pembaca akan menghargai karya pasukan kelak. Buat jadwal harian hingga naskah benar-benar pasukan selesaikan secara utuh.

3. Lakukan Self Editing

Seperti halnya tulisan fiksi, faksi maupun genre anak, pasukan juga harus melakukan proses self editing dengan cermat. Tulisan dengan gaya bahasa yang asik dan informatif akan menjadi hancur jika banyak typo bertebaran. Cari pembaca draft pertama pasukan supaya bisa mendapat kritik yang lebih okjektif demi perbaikan tulisan.

Naskah standart non fiksi minimal adalah 120-150 halaman A4, jenis font Times News Roman 12, spasi 1,5. Sudah punya bayangan mau menulis buku non fiksi apa, pasukan? Semoga sukses1

Semangat menulis non fiksi!
semangat menebar fakta dan data!
Salam literasi!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like