Akibat Menunda

By

Pagi itu di teras rumahnya,  Nenek Supi asyik bermain game online  dengan ponselnya.  Kebetulan Nenek Tika sahabatnya lewat, lantas menyapa. “Nek Supi! Ayo ambil seragam pengajian kita,” ajak Nenek Tika.

“Oh … eh … kau duluan sajalah Nek Tika, nanti kususul, lagi seru nih!” Nenek Supi menjawab dengan memandang sekilas saja pada Nenek Tika, kemudian buru-buru mengalihkan perhatiannya kembali pada ponselnya.

“Hu uh! Ya sudah,” sungut Nenek Tika sambil meninggalkan Nenek Supi.

Tik tok … tik tok … jarum jam bergerak lebih dari tiga puluh menit tetapi Nenek Supi tetaplah tidak beergerak dari tempatnya. Satu jam berlalu … hingga dua jam kemudian suara azan mengagetkan Nenek Supi. “Subhanallah! Sudah zuhur rupanya,” pekiknya lirih. Lantas dia bangkit dan masuk kedalam rumah. Tak berapa lama Nenek Supi keluar lagi dengan menggunakan mukena melangkah ke masjid di dekat rumahnya.

Pulang sholat zuhur Nenek Supi meraih kembali ponsel yang tadi diletakkannya di meja makan. Dia berencana hendak melanjutkan bermain game kembali, tetapi tiba-tiba perut Nenek Supi berbunyi, dia merasa lapar. Diletakkannya kembali ponselnya dan kemudian mengambil nasi untuk makan siang.

Selesai makan siang, Nenek Supi kembali asyik dengan ­game online-nya. Dia sama sekali telah lupa tentang baju seragam pengajian yang belum diambilnya. Padahal  baju seragam itu harus dikenakan dua hari lagi saat pengajian PKK.  Nenek Supi dan kawan-kawannya hendak berfoto bersama dengan seragam baru untuk pembuatan kalender PKK kecamatan. Ketika hendak beranjak tidur barulah Nenek Supi teringat bahwa dia belum mengambil seragamnya.

Paginya, setelah sarapan Nenek Supi berkata pada dirinya sendiri, “Aku harus ambil jahitan dulu.” Saat hendak keluar rumah,  ponsel yang tergeletak di meja seakan merayu memanggilnya. Dan Nenek Supi lemah hati. “Ah masih pagi, main game sebentar nanti baru ambil jahitan,” katanya pada diri sendiri. Dan bisa ditebak berikutnya apa yang terjadi, Nenek Supi kembali lupa tentang jahitannya. Dan sialnya, ketika dia ingat tentang jahitan seragamnya, hujan deras mengguyur sepanjang siang hingga malam. Membuat siapapun enggan untuk keluar rumah. Begitu pun dengan Nenek Supi.

Keesokan harinya Nenek Supi tak lagi bisa menunda mengambil jahitan baju seragamnya. Selesai sarapan dia segera ke rumah bu Sulam untuk mengambil jahitan. Sayang sekali, rumah bu Sulam sepi. Kata tetangganya, bu Sulam sekeluarga pergi dengan tergesa-gesa dini hari tadi, pulang ke kampung halamannya karena mendapat kabar ibunya masuk rumah sakit. Si tetangga tak tahu kapan bu Sulam akan kembali.

Nenek Supi lunglai mendengarnya. Dia menyesal sekali karena tidak menghiraukan ajakan Nenek Tika dua hari yang lalu. Dia menyesal karena telah menunda apa yang harusnya bisa dia kerjakan segera. Saat kembali ke rumah, Nenek Supi tak lagi tertarik menyentuh ponselnya. Dia sedih sekali, sehingga dia tak ingin lagi bermain game online seperti biasanya.  Nenek Supi hanya duduk termenung di kursi goyang sambil membayangkan esok dia tak bisa berfoto di jajaran depan karena tak berseragam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like