Amplop Cokelat

By

Kutatap lekat amplop cokelat yang tergeletak di meja. Aku sudah menerka apa isinya. Aku yakin sekali. Makanya, tanganku terasa berat untuk membuka benda persegi, sedikit tebal, dan tertulis besar-besar nama dan alamatku di sana.

Aku bertarung dengan pikiranku sendiri. Potongan-potongan kisah bersliweran, silih berganti. Harusnya tak seperti ini. Aku sudah menyiapkan jauh-jauh hari kemarin bahwa amplop itu akan aku terima. Siap atau tidak siap. Suka atau tidak suka. Tapi, mengapa masih saja kurasakan sesak di dada?

Menggigil kurasakan hatiku. Jemari tanganku dingin membeku. Rasa tak enak memenuhi mulutku. Mual. Ugh! Ada apa denganku? Kepalaku berputar-putar. Aku tak bisa bangkit dari dudukku. Padahal segelas air putih hanya tiga langkah dari sofa ini.

Sedemikian kroniskah efek dari perasaan yang tenggelam jauh di palung hati? Aku sudah tahu akan seperti apa ending-nya. Aku pun mencoba perlahan – walau gagal – mengikis cinta yang berserakan di samudra hatiku. Satu per satu. Hari demi hari. Dan, sungguh demikian sulitnya.

Perasaanku padanya, sudah tertanam jauh, mengakar di jiwa. Butuh waktu sangat lama untuk mengurainya. Entahlah, aku pun tak yakin bisa. Tapi, harus. Rasa itu harus usai. Tak peduli apa pun. Meski sesakit dan seperih apa, aku harus bisa. Bila aku tak ingin sepanjang hidupku akan tersiksa, tak dapat bahagia, selamanya.

Anganku terlempar dua minggu lalu ketika dia menelpon, setelah lima ratus hari tiada berkabar. Seisi bumi seketika berhenti, hanya degup jantung yang riuh menemaniku. Suaranya, yang selalu menyapa dalam setiap mimpi, kini menjelma nyata. Ya, penantian panjang yang kuharap segera happy ending, malah berujung sad ending. Dia mengabarkan bahwa akan menikah dengan pujaan hatinya; salah satu dokter saraf dalam tim dokter yang menanganinya selama ini.

Oh, dear Marsya, tahukah kau bagaimana kumenahan perasaanku? Selama ini bukannya aku benar-benar memutus kabar. Tapi aku menjauh, menepi sendiri. Menyadari bahwa semuanya telah berakhir. Kala itu, saat aku mengunjungimu yang terkulai lemah di ICU. Dengan berbagai selang dan alat bantu.

Luluh lantak hatiku. Menatapmu dari balik kaca ICU. Kerabatmu menceritakan semuanya. Tragedi yang menimpamu. Ingin aku menerobos pintu itu, menggenggam tanganmu, berbisik di telingamu : “aku pulang”. Tapi, mereka tak mengizinkan, keluargamu sangat ketat melarang kunjungan. Apalagi, kepadaku. Meski statusku adalah kekasihmu, tidak bagi mereka. Tidak bagi dunia.

Aku semakin menyalahkan diri. Tak bisa berarti bagimu, bagi hidupmu. Sungguh tak berguna. Padahal dulu aku pernah berjanji, akan menjagamu, akan bersamamu, menghadapi kerasnya realita bagi kisah cinta kita.

Kau, yang sejak masa remajaku telah mengubah pandanganku tentang hidup. Kau yang telah membuatku memiliki tujuan dalam hidupku. Kau, yang menyalakan cahaya duniaku, hingga aku kembali semangat menapak perjalanan kehidupan. Kau, yang membuat hidupku kembali hidup, bersinar lagi.

Karenamu-lah aku yang kecil dan lusuh dulu, dapat berlari-lari lagi menyusuri jalan desa menuju sekolah.
Meski hujan lebat membuat longsor di sana sini. Meski terik menyengat, membakar kulit ini. Aku tetap langkahkan kaki.

Entah, bila tak bertemu kamu saat itu, mungkin aku tidak akan seperti sekarang. Aku bisa sekolah. Kuliah, bahkan hingga pascasarjana. Aku dapat membahagiakan ibuku. Anak desa, yatim, kere dan lusuh itu, kini menjadi orang berpendidikan, bekerja pada perusahaan asing di luar negeri.

Meski ‘status’ku telah berubah, rupanya liku jalan hidupku masih terjal. Hubungan kita terhalang oleh restu orang tuamu. Bagi mereka, aku bukanlah seseorang yang pantas untuk bersanding denganmu. Di dalam darahku mengalir gen kotor yang dapat merusak kesempurnaan mulianya keluargamu.

Namun kau meyakinkanku, sekali lagi. Bahwa kita dapat bersatu suatu hari nanti. Berbekal kekuatan cinta, berdua akan kita hadapi segala rintangan. Aku pun ikut kukuh. Tetap tulus mencintaimu, menjadikanmu cahaya kehidupanku.

Lalu, bila kemudian, Dia Yang Maha Segalanya, menimpakan ujian yang begitu beratnya, aku menjadi ragu, apakah aku sanggup bertahan?

Amplop cokelat masih sendiri di meja. Aku juga masih mematung di depannya. Pikiranku setia berkelana mengupas satu per satu kenangan kita berdua. Isi di dalam amplop cokelat itu, mungkin yang benar-benar akan mengusaikan perasaan ini. Selamanya.

Setahun lalu, di hari aku akan kembali ke Nagoya, kau sadar dari ‘tidur’mu. Segera kubatalkan saja flight terakhir itu untuk menemanimu. Tapi kenyataan pahit kuterima. Perjalanan cinta kita telah terhapus dari ingatanmu.

Kecelakaan tragis yang kau alami menyebabkan cedera otak hingga membuat amnesia. Ingatanmu berhenti di lima tahun yang lalu. Di tahun kita wisuda sarjana. Setelahnya, gelap. Empat tahun perjalanan cinta kita yang penuh liku, menguap begitu saja. Tak bersisa dalam memori otakmu.

Dengan beban berat yang seakan bergelayut di lengan, kuraih amplop cokelat itu, dan kubuka perlahan. Harus aku ikhlaskan yang digariskan Sang Pemilik Kehidupan. Kau bukanlah yang Dia tuliskan untuk menjadi seseorang yang selalu di sisiku hingga masa tuaku. Selama ini aku telah tenggelam mencinta jodoh milik orang lain. Ah, sungguh malangnya.

“Satu Nopember dua ribu sembilas belas, Aryan – Marsya”. Seiring air mata yang berdesakan menghambur keluar, duniaku pun runtuh. Menimbun cintaku yang tertinggal di palung hati. Enggan pergi.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like