Bahagia di Sekolah Baru

By

 

Kerap kali kita orang tua meremehkan ketangguhan anak. Rasa khawatir berlebihan, keinginan anak menjadi sosok sempurna dan kasih sayang penuh, membuat kita orang tua, justru menjadi manusia rapuh. Melihat mereka melambaikan tangan di hari pertama sekolahnya, dengan senyuman manis mengikuti langkah guru yang baru saja mereka kenal, seketika terasa ada yang mau jebol di sudut mata. Tiba-tiba kita berharap si kecil berbalik, menangis dan kembali ke pelukan kita. Duh…

Ayah Bunda, saat anak mencapai usia tujuh tahun, secara mental dan biologis mereka sudah siap diajar. Otak mereka sudah Allah kembangkan sedemikian rupa hingga menuntut diisi lebih dan lebih. Maka melepas mereka dengan penuh keyakinan, bahwa apapun yang akan mereka lalui adalah bagian dari pembelajaran kehidupan, sesungguhnya menjadi bagian penting kemajuan anak ketika masuk dunia sekolah.

Dua anaksaya adalah bagian dari mereka yang memasuki sekolah baru dengan penuh antusias dan tidak ada drama pagi. Kunci pertama, usia mereka sudah cukup. Baik abang dan adik mulai TK kecil di usia 4½ tahun sehingga saat masuk sekolah dasar, usia mereka pas 6½ tahun. Kurang matangnya usia anak, khususnya anak lelaki, akan memicu konflik saat mereka duduk di kelas besar. Saya mendapati beberapa kasus anak yang kemudian atas pilihan orangtuanya, ditahan tidak dinaikkan jenjang selanjutnya.

Kunci kedua ada pada pilihan sekolah, dan saya tahu tidak ada sekolah yang sempurna. Ketidaksempurnaan sebuah institusi bukanlah kekurangan, tapi justru menjadi celah bagi kita berkontribusi kepada anak. Hal-hal yang kita anggap kurang, tentu tugas sebagai orang tua melengkapinya. Hanya saja, keyakinan kita pada institusi yang kita pilih akan membuat kita lebih percaya dan nyaman menitipkan anak. Faktor kenyamanan ini jelas akan berimbas kepada rasa percaya diri anak.

Bukan berarti mereka yang takut masuk sekolah dan menangis, tidak baik. Ada banyak hal yang menyebabkan kekhawatiran pada anak, bahkan sekedar belum memakai seragam yang sama dengan teman-teman saja bisa menyurutkan langkah mereka masuk ke dalam kelas. Satu cerita si bungsu, ada temannya yang tiduran saja di sudut kelas sejak pagi. Tidak satu pun kegiatan kelas yang diikuti. Usut punya usut, ternyata dia hanya lapar karena belum sempat sarapan. Ya Salaam….

Itulah mengapa sebagai orang tua, yang harus senantiasa kita ingat adalah menjaga hati anak. Sentuh hati dan rasanya… Tanyakan bagaimana kesannya di sekolah, bukan apa yang dipelajari. Kuatkan niatnya dan bakar semangatnya. Selamat berbahagia ya nak…

Lillah Martapermana

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like