Belajar Bersama Kakak

By

Ini memasuki tahun kedua kakak Ifa sekolah di Kuttab Al Fatih (KAF) Semarang. Jadi ingat awal-awal masuk ke KAF, rasanya galau sekali. Galau apakah benar ini pilihan terbaik untuk kakak. Setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang sangat matang, akhirnya bismillah kami mendaftarkan kakak ke KAF. Salah satu alasan kenapa aku memilih KAF sebagai partnerku dalam mendidik Ifa adalah adanya kesamaan visi misi.

Buatku dan ayah Ifa, sekolah itu partner, bukan sumber pendidikan utama. Kami ingin mencari sekolah yang tidak hanya sebagai tempat Ifa belajar, namun juga tempat belajar bagi orangtuanya. Di sekolah sebelumnya, kami pun memilih atas alasan yang sama. Namun setelah berjalan dua tahun di TK, ada beberapa hal yang menurut kami tak sejalan, hingga akhirnya kami memutuskan saat kakak masuk SD, tidak lagi melanjutkan di sekolah tersebut.

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, untuk menyeleksi santri-santrinya, bukan hanya para calon santri yang diberikan tes. Namun yang paling utama justru kesiapan mental kedua orangtuanya. Karena bisa dikatakan sistem belajar di KAF sangat berbeda. Jika di sekolah lain sudah lazin, belajar sambil bermain. Hal ini tidak berlaku di KAF. Saat belajar ya belajar, saat bermain ya bermain. Dulu awal-awal mendengar konsep ini kami pikir KAF pasti sangat kaku, terlalu disiplin dan anak nggak betah sekolah lama-lama di sini.

Setelah dijalani selama setahun ini, ternyata semua anggapan tadi salah besar. Justru anak belajar menegakkan adab belajar dengan benar. Bagaimana menghormati guru dan memperhatikan pelajaran dengan saksama. Ketika waktunya bermain, mereka bebas berlarian, dan bercanda-canda. Bukan hanya dengan teman sebaya, namun juga bermain bersama ustaz-ustazahnya. Seru lagi ketika hujan turun, semua santri malah diajak keluar kelas dan berhujan-hujanan. Mensyukuri rahmat Allah.

Ada banyak hal yang kudapat selama setahun ini. Pastinya di KAF, bukan hanya kak Ifa yang belajar. Aku dan ayahnya pun jadi belajar banyak. Bahkan kadang kami malah disentil Ifa gara-gara hafalan kami yang stuck di situ-situ saja. Kami juga dipaksa untuk rajin baca Al Quran dan memahami maknanya, karena di KAF ada yang disebut dengan BBO (Belajar Bersama Orangtua).

Dalam lembar BBO yang diberikan, mau tak mau kita jadi ikut membuka AL Quran, mencatat maknanya, menjelaskan maksudnya ke kakak agar mudah dicerna. Belum lagi hafalan hadits dan bahasa Arab. Benar-benar menantang. Lebih-lebih di KAF, jika si anak dibandingkan teman-teman lainnya jauh tertinggal, bukan anaknya yang ditegur. Namun kami sebagai orangtua yang ditegur. Apakah sudah mendampingi belajar dengan baik dan konsisten.

Di KAF juga ada kegiatan visiting. Ustaz/ ustazah akan berkunjung ke rumah dan melihat bagaimana kebiasaan kami di rumah. Karena pastinya ketika datang langsung ke rumah, kebiasaan yang sudah mendarah daging tak bisa ditutup-tutupi. Aku dan ayahnya juga merasa semakin kuat bergandengan tangan, karena setiap bulan lewat kajian wajib untuk orangtua, kami digembleng dengan kisah-kisah para Nabi dan sahabat.  Tentang bagaimana mereka mengasuh anak dan menjalankan rumah tangga.

Sekolah baru kakak yang sudah masuk tahun kedua ini benar-benar sesuai dengan keinginan kami. Meski jujur kami kadang masih kepontal-pontal mengikuti. Maklum kami ini masih hamba Allah yang lemah, yang masih sering orientasinya ke dunia. Jadilah kadang suka kepontal-pontal mengikuti mereka yang sudah istiqomah berorientasi ke akhirat. Namun begitulah, terkadang kita harus dipaksa dulu agar keep on the track. Doakan kami istiqomah dalam membersamai kak Ifa belajar di KAF ya.

Btw, kak Ifa sudah mulai bosan di rumah katanya. Aku kangen sekolah, Bun. Kangen hafalan sama teman-teman dan ustazah. Ternyata sekolah yang sering dikira keras dan kaku, justru dikangeni santrinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like