BIJAK BERMEDSOS

By

Baru saja saya melihat berita di salah satu TV nasional, tentang ditangkapnya seorang wanita karena telah menghina seorang Walikota di kota besar di Indonesia melalui akun medsosnya.  Saya sendiri tidak terlalu mengerti kasus yang mungkin sedang viral beberapa waktu ini. Pun dengan ungkapan yang diungkapkan wanita tersebut,  saya tidak mengetahuinya secara jelas. Secara tidak sengaja melihat potongan berita yang bagi saya cukup membuat miris.  Bagaimana tidak,  hanya dengan kata-kata yang tertulis di akun pribadi,  bisa membawa seseorang ke dalam bui.

Saya tidak akan membahas kasus ini lebih jauh mengenai pro dan kontranya. Apakah saya mendukung wanita tersebut ataukah menolak apa yang diunggahnya. Hanya saja saya berkesimpulan, bahwa sudah pasti kata-kata tersebut memang sudah melebihi “batas”, sehingga bisa masuk ke ranah hukum.  Dan itu membuat saya mengambil hikmahnya,  bahwa segala yang sesuatu yang kita perbuat akan mendapat konsekuensi, sekalipun itu hanya tulisan.

Ada lagi satu contoh miris tentang status yang membuat saya bergidik dan mengelus dada.  Beberapa hari yang lalu saya melihat foto yang diunggah teman  di dunia maya.  Foto berupa screen shoot story WA percakapan suaminya dengan selingkuhannya. Dalam foto tersebut jelas terlihat percakapan yang membuat jantung melonjat karena shock. Percakapaan tentang pengguguran kandungan,  tentang perzinaan dari dua orang yang sama-sama mempunyai pasangan.  Dalam caption foto tersebut, teman di dunia maya itu menulis,  “Ternyata ini penyebabnya kenapa hati saya tiba-tiba sakit”.

Dalam kolom komentar saya melihat banyak yang bersimpati,  ada juga yang menasehati agar tidak membuka aib.  Bagi sebagian besar orang yang melihat status tersebut,  mungkin tak habis pikir,  kenapa sampai tidak ada rasa malu mengunggah persoalan pribadi rumah tangganya. Itulah dunia maya dengan segala watak penggunanya.  Ada orang yang begitu hati-hati mengupdate status,  namun tak sedikit yang jor-joran membagi apa yang dialaminya.

Contoh kasus teman saya ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa bijak menggunakan medsos. Bisa dipastikan dia seperti  baru menemukan mainan barunya. Semua hal yang dialami ia bagikan,  tak peduli baik atau buruk.

Padahal,  status adalah cerminan diri seseorang. Status tak ada beda dengan ucapan kita.  Semua orang bisa menilai hidup seseorang dari statusnya.  Walaupun, tentu tidak semuanya seperti itu.

Kebebasan dalam bermedsos adalah hak setiap orang,  namun bijak bermedsos adalah pilihan dan keharusan demi menyelamatkan diri sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like