Dia Anakku

By

Guru dari sekolah anakku datang ke rumah. Beberapa tetangga memandang curiga, ada apa gerangan sampai pihak sekolah harus datang ke rumah. Aku tidak menghiraukan pandangan mereka, kupersilahkan guru berkerudung ungu itu untuk masuk ke ruang tamuku, atau lebih tepatnya, satu-satunya ruangan yang ada di rumahku.

Kami sudah janjian sejak beberapa hari yang lalu, itu sebabnya aku sudah menyiapkan beberapa cemilan sebagai suguhan.

“Selamat siang, Bunda Fido,” sapanya. Aku membalasnya dengan anggukan.

“Bagaimana anak saya di sekolah, Bu?” Aku langsung kepada pokok permasalahan karena aku tidak tahu harus berbasa-basi apa lagi.

“Fido sampai hari ini masih takut bila berpapasan dengan saya, Bun,” ujarnya, “Juga selalu menghindar dari penglihatan saya ketika saya mengajar di kelas.”

Jelas saja, pikirku.

Fido ketahuan sedang mengintip kamar mandi perempuan, dipergoki oleh wali kelasnya sendiri.

Fido tidak mengatakan apa-apa ketika dipanggil ke ruang BK. Terdiam sampai aku datang ke sekolah. Aku hanya tertegun ketika Bu Fitri menjelaskan mengapa aku harus sampai datang ke sekolah menjemput Fido.

“Maafkan saya, Bu.” Hanya kalimat itu yang bisa kusampaikan padanya saat itu, perasaan bersalah, malu, marah, semua bercampur aduk. Namun, Bu Fitri justru menawarkan sebuah solusi lain. Itulah sebabnya pagi ini, kami ada janji temu di rumah.

Fido masih ada di sekolah, ia berusia 7 tahun, baru saja masuk bangku sekolah dasar. Mengapa ia sampai punya pikiran untuk mengintip ke kamar mandi perempuan. Untuk apa?

Aku menangis ketika mendengar penjelasannya di rumah malam itu. Sengaja aku tidak memberitahukan pada ayahnya agar ia tidak dimarahi.

“Bun, kalo Karim liat gambar perempuan yang sexy-sexy teh, rasanya Fido kayak mau pipis,” akunya.

Aku terdiam. Aku bukannya tidak tahu di mana ia bisa mengakses gambar-gambar tersebut. Bukannya ia hanya melihat film kartun? Bermain games interaktif?

“Memang kamu lihat gambar-gambar seperti itu di mana, Nak? tanyaku berusaha tidak meninggikan suara.

“Di ponsel Bunda,” jawabnya santai.

Di mataku dia masih anak kecil, bahkan untuk mandi saja dia masih perlu dibantu. Siapa yang bisa menyangka bahwa organ genitalnya mulai terpancing di usia sedini ini.

Aku gemetar. Terus saja menyalahkan diriku sendiri.

“Alhamdulillah, Bu. Kita bisa tahu lebih awal, semoga kita bisa sama-sama mengembalikan anak ini kepada fitrahnya,” ujar Bu Fitri tenang.

___

Anakku tidak salah, yang salah aku yang kurang perhatian padanya. Beberapa obrolan yang disarankan Bu Fitri sudah kucatat di bukuku. Aku akan menyelamatkan Fido sebelum terlambat. Karena dia, anakku.

#OneDayOnePost #EventOnline #MiladPL #PejuangLiterasi

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like