Episode Relung Hati Reni

By

Reni mematut dirinya di cermin.

Cukup manis,” kata Reni pada dirinya sendiri sambil memutar badannya ke kanan dan ke kiri. “Rok payung kotak-kotak coklat, kaos oranye, dan khimar coklat susu. Perpaduan yang cukup bagus…”

Terakhir, Reni menyelempangkan tas macrame bergaya hippie hasil karyanya sendiri. Sudah dua minggu ini Reni mengikuti kelas macrame untuk mengisi  liburan semesternya.  Dan dia telah berhasil merampungkan satu proyek macrame di kelas tersebut yaitu tas yang kini dipakainya. Sesaat Reni memegang tas macramenya sambil tersenyum puas sebelum akhirnya melangkah keluar rumah.

Jarum di arloji Reni menunjukkan pukul 15,45 saat ia tiba di klub macrame. “Wah…masih seperempat jam lagi, aku terlalu awal datang. Masih sepi,” gumam Reni. “ Kutunggu di dalam saja ah, di ruangan kan ber-AC.” Cuaca bulan Juli saat itu memang terasa panas. Reni pun memutuskan untuk menunggu teman-teman klubnya di dalam ruang. Ruang klub tersebut merupakan sebuah garasi dari sebuah rumah bergaya kolonial yang diubah menjadi bengkel kerajinan macrame.

Saat membuka ruangan, Reni terkejut. Ternyata di dalam tampak Wanda sedang serius menganyam tali macrame. “Hei Nda! Sudah di sini kau rupanya? Sejak kapan he…?” tanya Reni memberondong Wanda sambil menghampiri temannya itu.

“Sekitar tiga puluh menit yang lalu Ren,” jawab Wanda.

“OO…bikin apa itu Nda? Kayaknya bukan proyek kelas kita ya?” tanya Reni sambil memegang-megang macrame yang sedang di buat Wanda.

“ Memang bukan. Aku dapat pesanan pouch Ren, dua sekaligus,” Wanda menjawab sumringah. “Kamu ingat tidak temanku yang seminggu lalu pesan tas ke aku? Nah…ibunya tertarik dan minta dibuatkan pouch. Pesan dua sekaligus. Katanya satu untuk hadiah ulang tahu adiknya.”

“Wow! Begitu rupanya. Bagus itu Nda.” Kata Reni sambil berjalan menuju mejanya. Entah mengapa tiba-tiba perasaan aneh merayapi hati Reni saat itu. Buru-buru disiapkannya segala peralatan macramenya. Tampak dari jendela kaca dilihatnya satu persatu anggota klub mulai berdatangan.

Hari itu  materi pelatihan masih melanjutkan proyek membuat plant hanger (gantungan pot tanaman). Tepat pada pukul 16.00 instruktur macrame, Bu Linda, masuk. Beberapa saat di belakanya tampak Lilian tergopoh-gopoh memasuki kelas. Lilian adalah sahabat Reni di sekolah yang kebetulan juga tetangga Wanda.

“Woi! Kenapa terlabat?” seru Reni dalam bisikan pada sahabatnya yang tengah menarik kursi di sampingnya.

“Kunci motorku…,” desah Lilian

“Lupa lagi kau menaruhnya dimana?” tanya Reni. Dia hafal betul sifat pelupa sahabatnya itu. Berulang kali Lilian kehilangan barang karena dia lupa menaruhnya.

“Heeh,” Lilian mengangguk

“Lalu?” tanya Reni penasaran.

“Ternyata ada di dalam kulkas. Aku menaruhnya di situ saat mengambil minum.” Lilian tertawa tertahan.

Tak pelak Reni pun ikut tertawa mendengar kecerobohan temannya. “ Di dalam kulkas? Sungguh tempat ajaib untuk meletakkan kunci motor,” batin Reni sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Di depan mereka tampak Bu Linda, mulai membuka pertemuan sore itu. “Baiklah, kita lanjutkan pekerjaan kita kemarin. Saya harapkan hari ini semua finishing untuk gantungan potnya ya. Jadi besok kita bisa lanjut ke proyek pernak pernik. Kita akan membuat gelang, bunga dan beberapa hiasan kecil lainnya.”

Ia berhenti sejenak. Kemudian menyapukan tatapannya pada seluruh kelas. “Semua siap menyelesaikan gantungan pot hari ini?”

“Siap!” hampir semua yang beraada dalam ruangan menjawab penuh semangat. Satu setengah jam berikutnya ruangan menjadi sunyi, semua sibuk menganyam talinya masing-masing.

Kelas macrame selesai tepat pukul 17.30. Wanda menghampiri Lilian yang tengah membereskan peralatannya. “Li, hari ini aku tidak nebeng pulang denganmu ya. Aku akan tinggal dulu di sini menyelesaikan pouch-ku hingga kelas berikutnya. Ada beberapa simpul yang aku masih bingung menganyamnya dan aku memerlukan bantuan Bu Linda untuk itu.”

“Oh…O.K,” Lilian menjawab sambil tersenyum seraya menyelempangkan tasnya. “Kalau begitu kami pulang duluan ya Nda. Jangan memforsir tenaga, ingat kesehatanmu,” pamit Lilian dengan menepuk bahu Wanda lembut. Wanda tersenyum, mengangguk.

Selangkah keluar pintu Reni bertanya pada Lilian, “Ada apa dengan kesehatan Wanda Li? Tampaknya kau mengkhawatirkannya.”

“Oh…itu, Wanda akan menjalani operasi pengambilan usus buntu pekan depan. Kasihan dia, sedang sakit, bersamaan dengan itu ayahnya baru saja diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja pailit. Makanya dia sangat gembira ketika ada yang memesan macrame padanya. Meski belum seberapa hasilnya setidaknya bisa membantu uang transport untuk bolak bailk ke rumah sakit saat ini.”

Reni tak bisa berbicara. Tak tahu ia harus berkata apa atas musibah yang menimpa Wanda. Ada yang berguncang hebat dalam dirinya mendengar penjelasan Lilian tentang keadaan Wanda. Dan itu meruntuhkan hatinya.

Bagai sebuah puzzle, makin lama makin tampak bagaimana perasaannya terhadap Wanda selama ini. Segalanya tampak jelas kini. Perasaan aneh yang dirasakannya pada Wanda selama ini adalah rasa iri. Ia dan Wanda, juga Lilian, memulai belajar macrame bersama, tetapi ketrampilan tangan Wanda dalam menganyam tali-tali macrame melebihi dirinya. Ditambah karya Wanda telah menghasilkan uang. Sementara dirinya hanya mendapatkan pujian dari teman-temannya tanpa satupun yang memesan untuk membelinya.

Rasa irinya terhadap Wanda membuat Reni begitu menyesal dan malu. “Begitu rupanya keadilan Tuhan bekerja,” pikir Reni. “ Begitu cara Tuhan mengatur rezeki-Nya.”

Jitakan lembut di kepalanya membuyarkan kebisuan Reni. “Hey! Tadi nanya, udah dijelasin malah ngelamun. Ada apa Non?” selidik Lilian.

Reni tersenyum, “Tak apa. Hanya sedang berpikir bahwa Allah memang maha adil dalam membagi rezeki-Nya. Wanda menerima pesanan macrame saat dia memang memerlukan uang. Semoga Wanda selalu dalam kemudahan Allah ya Li.”

“Aamiin….” Lilian mengamini sambil mengangkat kedua tangannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like