Fitri Benci Idul Adha

By

Challenge PL 26-29 Agustus 2019, Hari Raya Idul Adha

 

BENCI IDUL ADHA

Oleh : Ratna Hanafi

 

Hari ini Hari Raya Idul Adha seharusnya menjadi moment yang membahagiakan, akan tetapi tidak bagi FItri. Gadis kecil berusia enam tahun ini sejak sepulang dari sholat di lapangan berwajah murung. Sang Bunda tidak tahu apa sebabnya. Ia pun bertanya kepada gadis kecil mungilnya yang masih polos, ” Anak Bunda hari ini kok murung, kenapa sayang? Nggak suka sama baju barunya?”

“Bunda marah nggak kalau Fitri jawab jujur?” Tanya Fitri menyelidik kepada Bundanya.

“Kenapa Bunda harus marah? Jujur itu baik. Allah suka kebaikan. Fitri coba cerita jujur sama Bunda masalahnya apa?” Ucap Bunda meyakinkan.

Bunda mengambil posisi duduk di samping Fitri, menatap matanya sambil tersenyum. Tangan kirinya merangkul pundak Fitri. Hal ini dilakukan agar Fitri merasa nyaman saat bercerita dengan Bunda.

Fitri mulai angkat bicara, “Umm… Fitri nggak suka Idul Adha Bunda. Fitri dosa nggak Bunda?”

“Sebelum Bunda jawab pertanyaan Fitri, Bunda mau tanya sama Fitri. Kenapa Fitri nggak suka Idul Adha?”

“Soalnya setiap Hari Raya Idul Adha Bunda masak daging terus. Fitri nggak suka daging, rasanya nggak enak dan bau. Padahal kalau kurbannya diganti ayam kan Bunda jadi nggak  masak daging setiap hari. Fitri juga nggak usah benci Idul Adha.”

Bunda sedikit terkejut mendengar jawaban anaknya yang masih polos. Ia merasa bersalah karena telah membuat anaknya membenci Hari Raya Idul Adha.

“Ooh… Jadi itu alasannya. Sebelumnya Bunda minta maaf yah sama Fitri. Gara-gara Bunda, Fitri jadi benci deh sama Idul Adha. Bunda pikir Fitri suka daging. Waktu Bunda buat bakso, Fitri makan baksonya Bunda.”

“Kalau bakso Fitri suka Bunda, soalnya dagingnya sudah digiling. Fitri nggak suka kalau Bunda masak Rendang. Fitri selalu tersedak.”

“Umm… Ok. Bunda paham sekarang.”

“Bunda, Bunda… Kenapa sih hewan kurban nggak ayam aja? Kenapa harus kambing, sapi, dan kerbau?” Tanya Fitri kepada Bunda dengan polosnya.

Dengan bijak Bunda menjelaskan, “Menyembelih kurban itu perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Seruan kepada hamba-Nya yang bertakwa. Rasululloh pun melaksanakan perintah-Nya. Itu adalah bukti ketaatan dan kepatuhan kita kepada Allah. Lalu kenapa bukan ayam yang disembelih? Kenapa harus kambing, sapi, atau kerbau?”

Bunda menatap Fitri sambil menelisik. Fitri hanya menggeleng. Bunda pun melanjutkan penjelasannya kepada Fitri dengan memulai menanyakan kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.

“Fitri ingat kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail?”

“Fitri ingat Bunda. Kemarin Bunda Ayu cerita di kelas. Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih anaknya. Lalu Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail. Tapi Allah menggantinya dengan Kambing.”

“Iya, betul sekali. Nah, itu adalah pertama kalinya turun perintah berkurban yang sampai sekarang menjadi pedoman Umat Muslim dalam berkurban. Selain untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim dan putranya , juga sebagai bentuk pengorbanan dan keikhlasan atas perintah Allah. Lalu kenapa Allah mengganti Nabi Ismail dengan hewan Kambing? Kenapa tidak Ayam kesukaannya Fitri?”

Fitri tersenyum sipu. Ia malu saat mendengar kata-kata ayam kesukaannya.

“Di hari kiamat nanti, semua hewan kurban yang telah disembelih akan menjadi saksi. Pada setiap lembar bulunya kita memperoleh satu kebaikan. Itu bunyi hadistnya. Seberapa besar ketakwaan kita adalah sesuai besarnya kurban kita. Semakin besar hewannya, dan semakin banyak kurban yang kita berikan untuk disembelih, semakin banyak kebaikan yang kita peroleh.”

“Fitri mengerti sekarang Bunda. Ayam itu kan kecil yah Bunda. Kalau kita kurbannya ayam, berarti kita Cuma dapat sedikit kebaikan yah Bunda?”

“Umm… Bisa jadi begitu. Wallahualam bisshowab. Allah Maha Tahu segalanya. Allah tahu mana yang terbaik untuk umatnya. Tidak semua orang bisa merasakan nikmatnya makan daging setiap hari. Pada Hari Raya Idul Adha, semua orang bisa merasakan makan daging. Yang miskin, yang kaya tidak dibedakan. Itulah hikmahnya.”

Fitri mengangguk. Ia senang mendengar penjelasan Bunda. Sekarang dia mengerti dan tidak membenci Hari Raya Idul Adha.

Malam harinya, usai sholat Isya berjamaah bersama Ayah dan Bunda, Fitri berdoa.

“Ya Allah maafin Fitri yah udah benci Idul Adha. Fitri enggak benci sama Allah. Fitri cuma nggak suka daging. Tadi siang Bunda sudah menjelaskan semua ke Fitri. Sekarang Fitri mengerti. Kalau sudah besar nanti, dan punya banyak uang Fitri mau kurban yang banyak. Fitri mau masuk surga sama Ayah sama Bunda. Amiin.”

Ayah dan Bunda hanya tersenyum mendengar doa yang diucapkan anaknya yang masih kecil dan polos. Mereka pun memeluk Fitri dengan kasih sayang dan mengecup keningnya.

  • Inspirasi : Kisah masa kecil penulis

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like