Ibu Sekolah Pertama

By

“Yahya, ini lebih mirip buku harian. tidak semua orang suka membacanya. Buatlah cerita yang menarik” kataku pada Yahya, anak ke duaku saat membaca karya cerpennya.

“Kata Bu Guru ini sudah benar, Umi”. katanya.

“Iya memang benar, tidak ada yang salah dalam penulisannya. Tapi saat ini kamu mau ikut lomba menulis cerita anak, jadi ceritanya harus seru dan menarik” jelasku. Aku sangat berharap anak ini juga mulai terbiasa menulis seperti kakaknya.  Aku tahu benar ia punya bakat itu.

” Menurutku ini menarik”, bantahnya.

“Menarik bagi Yahya karena ini adalah cerita perjalananmu selama ikut lomba demi lomba. Tapi orang lain belum tentu mau membacanya. Karena tidak ada pelajaran di dalamnya” .

“Apa yang akan membuat orang lain tertarik?” tanyanya. Mulai terlihat antusiasnya.

“Dalam ceritamu tidak ada konflik. Cerita ini hanya datar saja. Tidak ada alur naik kemudian turun” aku berharap ia mau mendengar penjelasanku.

” Coba tanya guru Bahasa Indonesia atau guru Ekplorasi Pustaka mu”  kataku. Aku tahu ia begitu mengidolakan gurunya. Jadi aku merasa aku tidak akan berguna memberinya penjelasan.

” Aku mau sekarang penjelasannya” pintanya. Memang rasa ingin tahunya begitu tinggi, ia tidak akan sabar menunggu besok. Mulailah aku bercerita tentang apa itu konflik dan bagamana menyajikannya dalam sebuah tulisan. Yahya mendengarkannya dengan serius. Ia banyak bertanya. Ia mencoba memahami, tapi kemudian ia berkata, “Aku tidak bisa buat konflik, Umi. Karena aku tidak mau menulis tentang kesedihan”.

“Anakku, kebahagiaan biasanya bisa dirasakan seseorang setelah ia mengalami konflik. Orang orang yang tidak pernah mengalami konflik ia tidak akan bisa bercerita dengan menarik tentang bahagia”. Yahya manggut manggut tapi aku tak tahu apakah ia mau dan bisa membuatnya.

***

Kami bertemu teman lama di bandar. Beliau seorang dokter kandungan yang membantuku melahirkan Yahya. Beliau senang sekali bertemu Yahya. Beliau pun memberi selamat pada Yahya karena pernah meraih juara robot di Jepang.

Ternyata pertemuan ini membuat diskusi panjang dengan Yahya selama di pesawat. Yahya tiba tiba teringat kenangan saat di Jepang. Ia bisa menang setelah proses panjang. Usianya saat itu masih kecil. Ia berusia tujuh tahun. Ia peserta termuda dalam kompetisi itu. Yahya saat pertama tidak percaya diri. Akulah yang terus menguatkan percaya dirinya dibantu guru gurunya. Bahkan Yahya sempat mogok tidak mau ikut kompetisi karena ketidakpercayaan dirinya. Ia kembali mengingatnya satu persatu kejadian itu. Ia tersenyum bangga setelah berhasil mengingat semuanya.

“Yahya, itulah yang namanya konflik. Itu menarik untuk ditulis, karena ada pelajaran yang bisa dipetik bagi semua orang. Memang berawal dari sebuah kesedihan, bukan ?”

“Ya betul, Umi. Aku dulu sedih. Tapi begitu bisa menjadi juara satu aku bahagia sekali. Kebahagianku lebih besar dari Kakak Isa yang saat itu pun juga menang dalam kategori lain. Kenapa Kakak tidak sebahagia aku, karena mungkin Kakak tidak mengalami kesedihan lebih dulu. Kakak selalu jadi juara sejak dulu dan Kakak begitu percaya diri” katanya panjang lebar.

“Syukurlah jika kamu faham, kini. Jadi sekarang masih ragu untuk menuliskan konflik dalam ceritamu?”

Yahya menggeleng sambil tersenyum. Ada binar indah di matanya. BInar yang berasal dari otaknya yang saat ini mendapat pencerahan. Binar yang membuatku berani merenda harap, ia bisa menjadi penulis seperti kakaknya.

Aku lega sekali, karena akhirnya Yahya bisa memahami tentang konflik. Semula aku ragu, apakah aku mampu jadi guru pertama anakku.  Ternyata aku berhasil menjelaskan satu masalah padanya.

Ketika akhirnya Yahya bisa menulis cerita dengan sangat baik, aku jadi speechless. Bangga dan bahagia karena aku mampu menjadi guru pertamanya dalam menulis. Kebahagiaan itu semakin sempurna saat membaca pengumuman pemenang lomba ini.  Yahya bisa lebih sukses dari kakaknya.

PEMENANG LOMBA CERNAK

Kategori 9 – 10 tahun

Juara i         Ahmad Yahya Husaini

Juara II

Juara III

Kategori 11 – 12 tahun

Juara I

Juara II

Juara III     Muhammad Isa Anis

 

#ChalengePL

#ibusekolahpertama

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like