Ijinkan Aku Terus Belajar (2)

By

Aku hanya menoleh ke arah mama sambil tetap membisu. Aku tak lapar, mungkin sudah tiga hari ini aku makan hanya sekali sehari. Bahkan rasa kantuk melandaku ketika mataku lelah mengeluarkan banyak airmata, tiba-tiba kutersadar telah melewati beberapa jam yang lalu karena tertidur. Sesekali asmaku juga kumat karena sesaknya dada ini, mengingat segala hal yang baru saja terjadi pada diriku. Tabung oksigen selalu ada di kamar dan ventolin selalu ada di dompetku. Mama mendekatiku, mengajakku keluar kamar untuk bersegera makan makanan yang sudah disiapkannya. Aku memang bukan anak kesayangannya, aku punya tiga saudara yang membutuhkan perhatian mama juga. Namun perjalanan hidupku kali ini belum seberuntung ketiga saudaraku.

Setelah selesai makan, mama mengajakku berbicara, ia berusaha menggali pemikiranku agar aku tidak berlarut-larut dalam keterpurukan ini. Yaa, aku baru saja berpisah dengan suamiku. Orang yang selama ini kubela dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga, kuyakinkan semua orang termasuk mama dan saudara-saudaraku bahwa ia lelaki pilihan Allah yang tepat, yang akan bertanggungjawab dengan kehidupan dunia akhiratku namun pada kenyataannya ia mengkhianatiku. Mengkhianati pengorbananku selama enam tahun belakangan ini. Dia bukan hanya menyakitiku, tapi juga menyakiti buah hati kami. Aku tak mungkin terus berjalan dalam kesakitan ini, karena tak hanya diriku yang sakit melainkan bocah kecil yang pernah berada dalam perutku selama sepuluh bulan pun merasakan sakitnya tangan besar yang pernah jatuh dipipi mungilnya dengan sangat kencang.

Rumahtanggaku terbiasa dengan tangan atau kaki yang tiba-tiba melayang dan mendarat di tubuhku. Itu bukanlah hal tabu untukku. Sempat berpikir bahwa selama 25tahun aku dibesarkan orangtuaku, sekalipun aku tak pernah menerima pukulan atau tendangan dahsyat dari papa mamaku. Mereka pernah menghukum ketika aku salah, tapi sama sekali bukan bentakan atau tindakan kasar yang aku terima. Melainkan ucapan dan tindakan tegas agar aku tak mengulangi kesalahan itu lagi. Tapi setelah pertanggungjawaban kehidupanku pindah di tangannya, aku terbiasa dengan sifat dan sikap tegas menurutnya karena kesalahannya. Sekali lagi karena kesalahannya, bukan kesalahanku. Ia yang salah tapi aku yang harus minta maaf. Ia yang berbuat tidak baik di luar, aku yang harus menerima caciannya karena pertanyaanku kepadanya. Bertanya dalam tenang tanpa emosi, dijawab dengan bentakan dan tindakan dahsyat. Ah, aku sudah biasa mendapatkan itu.

—Bersambung—

#OneDayOnePost #EventOnline #MiladPL #PejuangLiterasi

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like