JIKA TAK INGIN USANG, JADILAH ORANGTUA PEMBELAJAR

By

“ Umi, besok pelajaran art. Aku disuruh buat barang dari plastik” kata Yahya saat kami duduk di sebuah sore. “Aku buat tempat pensil dari plastik bekas”

“ Kak Yahya pakai barang dari plastik untuk mengurangi pencemaran sampah plastik” kata Zakaria, adiknya yang baru kelas satu.

“Woow..hebat anakku. Dari mana kamu dengar tentang sampah plastik, Sayang” kataku takjub.

“Dari bu guru lah. Setiap hari ceritanya tentang sampah plastik dan bahayanya untuk kita jika menumpuk” jawab Zakaria, aku semakin terpesona. Aku jadi penasaran apa saja sih yang diobrolkan di sekolahnya.

“ Cerita donk selengkapnya bagaimana cerita Bu Guru ?  “ tanyaku pada Zakaria. Tapi sayang Zakaria sudah berlari bermain sepeda dengan teman temannya.

“Kakak, sebetulnya bagaimana perubahan yang diajarkan di sekolah sekarang ? Apakah beda dengan dengan tahun lalu sebelum ada program baru ? “ tanyaku penasaran pada Isa, kakak sulung yang sudah mengenyam ppendidikan di sekolah ini selama enam tahun. Kini ia yang paling merasakan perubahan metode belajarnya.

“Kami sekarang belajar sesuai central idea yang ditentukan. Jika kami sedang belajar tentang “Our Earth” misalnya, kami harus fahami masalah tersebut kemudian cari bahan sesuai materi. Setelah mendapat bahan kami harus memilih informasi mana yang akan kami pelajari. Kemudian mencari materi itu lebih jauh, membuat kesimpulan dan akhirnya action. Itu yang di sebut Inquiry Circle” jelas si Kakak. Aku semakin merasa jauh tertinggal di banding mereka. Dulu saat belajar kami hanya menyantap porsi yang sudah disediakan. Kini cara belajar mereka berubah.

Yahya ketika menyadari aku kebingungan mendengar penjelasan mereka, ia melanjutkan. “ Pokoknya, Umi, kini kami sulit bedakan mana pelajaran science, mana pelajaran bahasa, mana pelajaran art, mana pelajaran social, semua menyatu membahas central idea yang sama” .  Ya Allah, Anakku, apa yang kini disuntikkan sekolah untukmu, aku harus mampu belajar agar bisa tetap berdiskusi dengan mereka dengan cara yang tidak usang.

Karena tuntutan jaman dan kebutuhan. sekolah anak anak merubah identitasnya menuju sekolah internasional.  Banyak tatanan baik fisik dan mental diubah. Sebuah gawe besar terjadi di sekolah. Pengurus yayasan, para guru serta anak segera belajar dan berbenah menyesuaikan perubahan tersebut. Ternyata tidak hanya mereka yang harus belajar, para orangtua mau tidak mau harus rela bermetamorfosis dan belajar mengikuti program yang mendunia ini.

Dalam pendidikan dikenal konsep tiga pilar. Artinya untuk kesuksesan sebuah pendidikan dibutuhkan kolaborasi tiga komponen penting, yaitu anak didik, para guru dan yayasan, serta orangtua. Pendidikan tak akan berhasil maksimal jika ada kelemahan di salah satu dari tiga komponen tersebut.

Tidak mudah bagi orangtua dengan segudang kesibukaan rumah maupun tuntutan kesibukaan pekerjaan untuk belajar kembali. Tapi demi sebuah perubahan yang baik maka ini harus dilakukan.
Program pendidikan yang dipakai saat ini di Al Firdaus World Class Islamic School ( AF WCIS ), rumah ke dua anak anak adalah pendidikan Cambridge untuk pelajaran bahasa Inggrisnya dan IB (Internasional Baccalaurent).  IB berasal dari fondasi pendidikan yang berlokasi di Jenewa, Swiss. IB memberikan dasar yang kuat dalam pemahaman konsep setiap mata pelajaran.  Di program IB,  para pelajar dituntut untuk berpikiran kritis dan dilatih belajar secara mandiri.

Untuk bisa menjadi teman diskusi yang menarik bagi anak, orangtua harus juga memiliki wawasan yang luas. Kewajiban inilah yang menyebabkan orangtua harus belajar lagi. Orangtua di sekolah ini diberi unit letter perminggu untuk mengetahui apa yang saat ini sedang dibahas di tiap grade.

Beberapa cara ditempuh untuk bisa menjadi orangtua pembelajar di sekolah AF WCIS. Mulai dari sosialiasais awal tentang IB, kemudian menyediakan informasi sebanyak banyaknya dari berbagai sumber. Perwakilan orangtua juga diajak mengikuti pembinaan tentang tugas orangtua dalam sekolah ini baik belajar lewat sekolah lain yang sudah ber IB maupun belajar langsung dari pembina IB yang berkunjung ke sekolah untuk mendapat informasi tentang IB dan menjawab permasalahan yang dirasakan orangtua.

Setelah mengetahu apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua, mulaikah mendampingi  anak anak saat belajar. Belajar bagi pengguna program IB terlihat tidak selalu terlihat seperti belajar. Kegiatan belajar di rumah mirip sebuah diskusi. Anak dibangkikan rasa inquiry (ingin tahu) nya kemudian ia akan terus mencari informasi sebanyak banyaknya dan mendalam tentang permasalahan yang ada dalam central idea. Kemudian dilanjutkan melakukan eksperimen dan akhirnya mencipta sebuah karya yang berguna bagi semua orang. Cara seperti inilah yang membuat anak tidak pernah bosan belajar.

Mula mula terasa berat apalagi belum ada buku pegangan yang bisa digunakan oleh orangtua. Tapi lewat belajar dan belajar akhirnya pekerjaan ini menjadi mudah dan sangat menyenangkan. Bahkan kadang orangtua dan anak merindukan saat bisa belajar bersama. Aktifitas ini tentunya akan semakin meningkatkan ikatan dalam keluarga. Yang terpenting memberi bekal ilmu yang cukup untuk masa depannya yang tidak selalu bisa dikunjungi oleh orangtua..

 

#ChalengePL

#jikatidakinginusangjadilahorangtuapembelajar

1 Comment
  1. Siti 1 year ago
    Reply

    Wow…menginspirasi bgt. Ijin copas ya tuk emak2 di Bna. Mtr nwn

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like