Kehilangan di Asrama #3

By

Ustazah Hani mengecek barang ini satu per satu. Ia data jenis barang dan pemiliknya. Ada sepuluh orang yang terdata. Ustazah Hani masih tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Ia ingin segera menyelesaikan permasalahan ini. Ustazah Hani mengamati peruncing pensil berbentuk kura-kura. Ukurannya lumayan besar. Tidak muat jika dimasukkan kedalam kotak pencil. Tangannya beralih megambil bros merpati kecil lagi mungil. Ustazah Hani mengambil kesimpulan sementara bahwa siswanya ini mengoleksi barang unik temannya. Adalagi kaos kaki pelangi yang fashionable.
Tubuhnya kecil. Ia tidak banyak bicara. Walau pendiam, dia anak yang supel dan mudah bergaul. Wajahnya tertunduk dalam. Ia diam seribu bahasa di hadapan Ustazah Hani. Genangan air mata terlihat di sudut matanya. Namun tak tumpah. Sesekali terdengan aliran nafas panjangnya.
“Apakah antum yang melakukan semua ini?” Ustazah Hani mulai bertanya. Yang ditanya hanya diam. Anggukan kecil sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
“Apa yang membuat antum melakukan ini?” Ustazah Hani kembali bertanya. Diam. Tak ada jawaban. Hatinya mulai bergemuruh. Ia kembali mengatur dentuman yang ada di hati.
“Ana minta maaf, Zah.” Ia pun bersuara setelah sekian lama diam. Ustazah Hani tidak ingin memotong. Ia masih menunggu kalimat lanjutannya. Tiba-tiba ia menangis. sesenggukan. Ustazah Hani membiarkan ia menangis. Hingga tangisannya mulai mereda.
“Ana suka dengan barang-barangnya, Zah. Ana selalu kepikiran jika tidak mengambilnya.” Ia mulai member penjelasan. Dalam hati Usatazah Hani terus beristighfar.
“Antum tahu apa yang antum lakukan itu salah, tidak benar!”
“Ana tahu, ana salah, Zah. Ana minta maaf.” katanya.
“Zah, ana boleh bertanya?” Ia kembali bersuara.
“Boleh.” Jawab ustazah sambil mengangguk.
“Kenapa ya Zah, kalau ana melihat barang yang unik selalu kepikiran dan akan puas ketika bisa mengambilnya.” Ustazah Hani tersentak dengan apa yang baru saja didengar. Apakah ini kleptomania batin Ustazah Hani. Apapun itu namanya ia bertekad untuk bisa merubah prilaku menyimpang anak didiknya ini.
“Sarah, perbanyak zikir ya, Nak. Kalau ada keinginan seperti itu segera istighfar bisa juga langsung temui ustazah. Ustazah akan bantu agar Sarah tidak seperti itu lagi.“
“Makasih ya, Zah. Ana mohon bimbingan dari Ustazah.”
“Perbanyak tilawah dan menghafal al Qur’an agar Sarah selalu disibukkan dengan kebaikan.” Ustazah Hani menambahkan. Walaupun begitu Ustazah Hani tetap memberikan sanksi atas apa yang telah Sarah lakukan. Sarah pasrah dengan sanksi yang akan ia terima. ia bertekad untuk berubah menjadi lebih baik kedepannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like