Kerinduan Ibu

By

Perempuan separuh baya mondar mandir di depan kompor yang menyala. Tangannya bergantian mengaduk gulai ikan patin sambil membuat bumbu tahu goreng. Beberapa hari yang lalu anak bungsunya menelpon. Ia akan akan pulang Minggu ini. Wanita tersebut begitu bahagia mendengar kabar kepulangan anaknya. Kerinduan yang sudah berminggu-minggu akan segera terobati. Setelah anaknya lulus CPNS, Ia dan keluarganya pun pindah kelokasi dimana anaknya ditempatkan. Sebuah daerah yang ratusan kilometer dari kampung halamannya. Meskipun begitu anaknya selalu menelpon hampir setiap hari.

Sebagai seorang ibu, Ia senang anaknya mendapatkan apa yang dia harapkan. Namun demikian, rindu seorang ibu juga sangat besar untuk seorang anak. Menjelang zuhur masakan sudah matang terhidang. Ia melanjutkan pekerjaan di pekarangan rumahnya. Buah coklat mulai menguning tanda siap untuk dipetik.

Ba’da zuhur perempuan tua mulai mengupas buah coklat diteras depan rumahnya. Sambil berharap anaknya akan segere muncul di hadapannya. Dua ember besar telah selesai dikupas. Ia bentangkan plastic di daerah yang panas. Ia mulai menjemur biji-biji coklat. Ia menata dengan rapi agar setiap biji terkena sinar matahari.

Menjelang magrib, perempuan paruh banya mulai terlihat cemas. Wajahnya menunjukkan kegelisahan. Sesekali ia melihat jam dinding di pojok ruang tamu. Matahari sudah tidak lagi bersinar. Namun suara mobil yang ditunggu belum juga datang. Lantunan azan magrib berkumandang diberbagai penjuru. Hati perempuan itu mulai tak karuan. Ia pandangi masakan yang sudah terhidang di meja matang. Belum tersentuh.

Setelah melaksanakan sholat maghrib, ia membaca al qur’an ayat per ayat. Sembari menunggu isya ia baringkan tubuhnya yang mulai ringkih di atas ranjang berseprai hijau tua. Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Ia langsung beranjak dar tempat tidurnya.
“Assalamu’alaikum, Ibu” Perempuan itu langsung mengenali suara si penelpon.
“Maaf ya Bu, Andi nggak jadi pulang hari ini. Masih ada pekerjaa di sini.” Tangan perempuan itu bergetar mendengar apa yang baru saja disampaikan anaknya. Terbayang makanan yang sudah dimasak dari tadi pagi.
“Ya, nggak apa-apa.” Ia sudah tidak tahu lagi akan berkata apa. Telepon terputus. Ia berjalan gontai menuju kamarnya.
“Assalamu’alaikum. Ibu…” Perempuan itu terperanjat dari tidurnya. Ternyata tadi hanya sebuah mimpi. Ucapan salam dan bunyi mobil di luar membangunkannya.
“Wa’alaikumslam…” Jawabnya sambil membuka pintu. Anak, menantu dan cucunya sudah ada dihadapannya.
“Bu saya bawa Isya dulu ke kamar.”Kata menantunya sambil membawa putri kecilnya yang berusia satu tahun tertidur pulas dalam gendongannya. Perempuan itu tersenyum bahagia. Ia peluk anaknya dengan erat.
Ibu dan anak pun berkisah panjang lebar sepanjang malam. Menantunya membuatkan teh hangat dan beberapa cemilan sebagai teman ngobrol. Mereka bercerita melepas rindu bersama.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like