Lelaki Pengamat Langit (bagian 2)

By

Fatur tersenyum memandangi foto lama dirinya dan gadis kecil berkepang dua di jalanan licin, samping dinding rumah Sang Kakek di Bandung. Awal pertemuan mereka.

“Hei… Hayo senyum-senyum sendiri….” goda Kastov.

Fatur hanya bisa tersenyum dan merona.

Pendaratan Fatur, Kastov, Josh dan Dimitri dari misi Planet Biru, mulus tanpa halangan. Misi pengamatan selesai dengan baik. Bahkan Josh sudah meminta cuti dan langsung kembali ke negara asalnya. Sedangkan Kastov, Dimitri dan Fatur masih di kantor, melanjutkan laporan.

Dimitri muncul dari depan pintu, ikut menguping.

“Sudah… Begitu nanti sampai di negaramu. Ajak ia makan malam di bawah langit malam bertabur bintang. Romantis bukan?” ucap Kastov

“Hei Fatur, dengarkan ucapan Kastov. Sang Playboy Kelas Kakap,” kata Dimitri.

“Ketika gadismu sedang menatap indahnya bintang. Kau ucapkan seperti ini, ehem… Bintangnya cantik ya, secantik gadis yang memandangnya….” ujar Kastov sambil tertawa terbahak-bahak.

Fatur ikut tertawa kemudian berkata, “Gombalanmu bagus juga, Kastov. Tapi gadisku itu tidak bisa melihat indahnya bintang. Maka dari itu akulah yang selalu menjadi pengamat langit baginya,”

Kastov langsung menghentikan tawanya. Ia merasa bersalah.

“Maaf, aku lupa kalau….”

“Tak apa, Bro! Santai….”

Kastov yang selalu konyol tiap waktu dan selalu bercanda, ternyata bisa diam dan merasa bersalah.

“Bagaimana jika kau bicara begini…”  ujar Dimitri sengaja memecah kecanggungan,” Ketika aku di akademi aku selalu salah menembak sasaran tembak. Karena aku hanya mampu menembak sasaran hatimu….” lanjutnya.

Kastov tertawa terbahak-bahak kembali. Fatur menggeleng-gelengkan kepala sambil ikut tertawa. Usaha Dimitri memecah keccanggungan berhasil. Kedua kawannya kembali tertawa tanpa ada jarak.

***

Fatur sedang membereskan lokernya, bersiap meninggalkan kantor untuk cuti. Tak ada hal yang penting dari loker yang akan ia bawa. Fatur hanya berniat merapikannya saja. Ia khawatir Kastov akan mengacak-ngacak lokernya dan membuat masalah ketika ia tak ada. Keisengannya akan kumat jika ia merindu kan seseorang.

“Bagaimana surat cuti mu?” tanya Dimitri.

Fatur tidak menjawab. Ia hanya melambai-lambaikan secarik kertas terlipat. Surat ijin cuti.

Dimitri tersenyum, “Jangan lupa cincinnya….”

Fatur refleks menengok ke arah Dimitri.

“Iya… Cincin dengan hiasan bintang. Kau sengaja memilih cincin itu, kan. Sudah pasti untuk gadismu,”

Fatur tak kuasa menjawab. Pipinya sudah merah padam. Dimitri mendekat dan memandang wajah Fatur. Dimitri tertawa kecil dan menyikutnya. Fatur membalas. Dimitri menyikutnya lagi. Fatur membalas lebih keras hingga Dimitri sedikit terdorong. Mereka berdua kemudian tertawa.

Bersambung…

.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like