Lelaki Pengamat Langit kebagian 3)

By

***

Dari jendela pesawat Fatur menatap langit Moskow yang biru sambil menyelipkan do’a. Terpesona sesaat dengan indahnya langit. Setelah sadar, Fatur mengeluarkan gawainya dan memotret keindahan langit itu. Ia berniat menceritakannya nanti kepada Maya. Seperti yang bertahun-tahun ini ia lakukan sebagai Lelaki Pengamat Langit.

***

“Eh, Nak Fatur. Silakan duduk,” kata seorang ibu paruh baya sambil menunjuk sebuah bangku yang terbuat dari bambu.

Ibu paruh baya ini dipanggil Nenek oleh Maya. Sang Gadis Berkepang Dua ini hidup berdua di rumah yang terbuat dari pilinan bambu. Dengan dinding yang berpori seperti itu, dinginnya malam akan lebih terasa. Untungnya atap rumah mereka sudah menggunakan genteng, aman dari air hujan.

Fatur datang kembali ke rumah ini, setelah kemarin mengantarkan Maya ke rumahnya. Lebih tepatnya menemani Maya menuju rumahnya. Maya hapal sekali jalan mana yang harus dilewati menuju rumah. Walau matanya tidak melihat namun otaknya menghapal dengan sempurna. Fatur sampai tergeleng-geleng dibuatnya. Fatur saja nyaris tersasar pagi ini, ketika bersepeda ke arah rumah Maya.

“Fatur?” suara ceria seorang gadis terdengar dari balik pintu.

Fatur segera menoleh dan tersenyum.

Walaupun ia tahu temannya ini tidak akan bisa melihat ia tersenyum, namun ia yakin temannya tahu kalau ia sedang tersenyum. Entah ada malaikat yang membisikkan itu padanya, entah insting. Pokoknya Fatur yakin, Maya pasti tahu.

Maya berjalan menuju bale tempat Fatur duduk. Terdengar suara decitan dari bale, yang menandakan Fatur berdiri.

“Berhenti….” kata Maya.

Fatur terdiam membeku.

“Aku harus belajar sendiri untuk bisa berjalan sampai ke bale dan duduk di sana. Jadi tak perlu berdiri membantu ku,”

Tuh kan Maya tahu. Heran deh. Ucap Fatur dalam hati.

Maya sudah duduk manis di bale. Maya dan Fatur saling berhadapan.

“Bagaiaman kamu tahu, kalau tadi aku hendak beridir membantu mu?” tanya Fatur heran.

“Dari suara decit tadi,”

Fatur memiringkan kepalanya, bingung.

“Yasudah lah, aku tak paham. He… He… He…..”

Kini keduanya tertawa bersama.

Fatur lalu menceritakan aktifitas kemarin yang sedikit membisankan. Acara mengamati burung bermigrasi di langit dengan Kakek. Ia bosan sekali karena setiap ia datang berlibur di Bandung. Kakeknya selalu mengajak hal yang sama. Di tengah cerita kadang Maya tertawa. Membuat Fatur semakin bersemangat menceritakan pengalaman berliburnya dengan Kakek. Walaupun menurut Fatur tidak semua liburannya itu membosankan.

“Harusnya kamu bersyukur, bisa ikut mengamati burung bermigrasi bersama Kakek. Dengan teropong pula. BIsa memotret keindahan mereka,”

Fatur tersenyum.

“Kalau aku, membayangkan indahnya awan atau bintang saja sulit,”

Fatur menunduk. Rupanya ia lupa bersyukur. Harusnya ia bersyukur masih bisa melihat keindahan alam, kehebatan burung-burung bermigrasi yang bermil-mil jauhnya dari rumah mereka. Bersyukur masih memiliki Kakek yang mau berbagi ilmu dengannya dan menemani dirinya ketika berlibur.

“Kakekmu hebat Fatur. Tahu mengenai apa pun. Pasti bangga mempunyai kakek seperti Opa Agung,”

“Iya, kamu benar, Maya!”

Mereka kini terdiam. Ditatapnya kedua mata Maya yang berwarna berbeda dengan mata milik Fatur, yang tidak bisa melihat indahnya awan dan semua isi langit. Tiba-tiba ada ide yang melintas di otak Fatur.

“Ah, bagaimana kalau aku bercerita kepadamu tentang isi langit. Kamu tinggal sebutkan saja pada ku,”

“Ah, yang bener,”

“Tentu!” jawab Fatur mantap.

“Nanti kamu bosan jika bermain bersama ku,”

“Tidak akan. Ayo sebutkan saja apa yang ingin kamu tahu, nanti aku akan cari tahu dan bercerita kepada mu. Sehingga kamu akan tahu keindahan isi langit,”

“Berarti kamu akan mengamati langit untuk aku?”

“Iya!” jawab Fatur dengan lebih mantap.

“Jadi pengamat langit untuk ku?”

  1. “Iya!” jawab Fatur dengan nada kesal, “Kamu mau mengulang-ulang pertanyaan lagi, ya?” lanjutnya.

Maya tertawa. Kini ada teman yang akan menjadi Pengamat Langit-nya, yang siap menceritakan apa saja sesuai permintaannya.

.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like