Lelaki Pengamat Langit

By

Fatur menatap keluar jendela, ditatapnya sederetan benda angkasa di sekitaran kapsul. Indah sekali. Tak pernah ia jemu menatap pemandangan ini, walaupun sudah lebih dari seratus hari ia melihat hal yang sama. Misi pengamatan planet di jajaran galaksi Bimasakti ini, mengharuskannya mengitari jalur satu planet, Planet Biru. Kawan-kawannya sudah sangat bosan melihat pemandangan di sekitar kapsul mereka, karena hanya menampakkan hal yang sama. Namun tidak bagi Fatur.

Langit dan isinya merupakan hal yang paling Fatur suka semenjak ia kecil. Hidupnya ia curahkan untuk mempelajari planet, bintang, rasi bintang, nama-nama galaksi, dan segala macam mengenai benda langit yang lain. Semua buku mengenai benda-benda langit ia lahap dengan sangat cepat. Ia bahkan bisa berkali-kali datang ke bosscha, bermain dengan para staf di sana atau sekedar mengamati mereka bekerja.

Matanya selalu berbinar tatkala guru di sekolah menjelaskan mengenai benda langit. Ia selalu suka menghabiskan waktu di perpustakan sambil melihat film pendek tentang langit dan isinya. Atau sekedar duduk membaca ensiklopedi tentang langit. Tak lupa ia selalu mencatat hal-hal baru yang ia dapatkan. Kemudian ia rangkai dengan kata-kata yang sederhana di dalam buku catatannya. Tulisan rapi beserta gambar sederhana.

Fatur menatap Planet Biru di hadapannya. Ia tersenyum. Sebentar lagi waktunya di kapsul ini akan berakhir, ia akan kembali ke asalnya, Bumi. Bertemu dengan gadis itu, gadis yang membuatnya mencintai langit melebihi apa pun. Gadis cinta pertamanya.

***

Hari ini Fatur kecil berlibur ke rumah Kakeknya di Bandung. Semua anak-anak akan selalu bahagia jika bertemu dengan Kakek dan Neneknya. Namun hal itu tidak berlaku bagi seorang Fatur kecil. Ia lebih suka jika Ayah dan Ibu mengajaknya ke luar negeri atau ke area permainan berteknologi tinggi. Bagi Fatur, berlibur di rumah Kakek, artinya bermain dengan alam bukan dengan teknologi.

Benar saja, setibanya Fatur di rumah, Kakek langsung mengajaknya mengamati migrasi burung dari balkon. Tak ada hal yang lebih menarik bagi Fatur selain memainkan gadget dengan berbagai aplikasi permainan daring. Fatur terus saja menghela nafas panjang, disela-sela penjelasan Kakek mengenai migrasi burung. Bukannya Kakek tidak peka akan keacuhan Fatur kecil, namun ia sengaja menjauhkan Fatur kecil dari gadget yang merusak waktunya.

Kakek menatap langit sambil menunjuk jajaran burung yang membentuk huruf V. Menjelaskan jenis burung dan tujuan mereka melakukan migrasi. Fatur yang bosan membuang pandangan ke arah bawah. Ketika itulah matanya menangkap sesosok gadis kecil berkepang dua dengan tongkatnya. Ia melangkah sambil memegang tembok rumah Kakek. Ia sedikit kesulitan berjalan, karena jalan yang licin dan basah akibat hujan tadi pagi. Kakinya ragu melangkah, sudah berkali-kali ia nyaris terjatuh.

Fatur yang menatap dari atas balkon merasa iba. Ia pun lalu berjinjit meninggalkan Kakek yang masih asyik menjelaskan mengenai burung dan migrasinya. Setelah berhasil menjauh dari Kekek, ia berlari. Kakek yang sedang asyik menjelaskan kemudian beralih hendak memandang Sang Cucu. Kakek bingung. Fatur kecil menghilang. Kini Ia kebingungan mencari-cari cucu kesayangannya yang pergi tanpa bicara apa-apa.

Fatur terus berlari melewati ruang tamu menuju halaman hijau milik Kakek. Pagar tua milik Kakek membuat Fatur kecil agak kesulitan membukanya. Setelah berhasil ia lalu berlari menuju sosok ia yang ia tangkap dari atas balkon.

Akhirnya ketemu. Gadis berkepang dua itu sedang berhenti, mengarah-arahkan tongkatnya, mencari jalan. Fatur mendekat dan memegang tangannya. Gadis itu terkaget bukan main.

“Eh, maaf. Aku cuma mau membantu,” ujar Fatur kecil.

Gadis itu tersenyum sambil mempererat genggaman tangannya, “Terima kasih.”
Fatur membimbing langkah Sang Gadis Berkepang Dua, dengan sangat hati-hati.

Jalanan ini memang sangat licin, sudah banyak korban yang terjatuh di sini. Mungkin Fatur akan meminta Sang Kakek untuk memperbaiki jalanan disamping tembok rumahnya, agar lebih ramah dengan kaki-kaki para pejalan kaki. Terutama pejalan kaki cilik seperti dirinya.

Dari kejauhan Sang Kakek tersenyum, mengamati Sang Cucu yang pergi membantu gadis kecil di bawah sana. Rupanya Sang Ibu sukses menanamkan kepekaan dan empati kepada Fatur Kecil. Kakek segera kasak kusuk mencari sesuatu di meja, sebelum momen itu hilang. Setelah berhasil menemukannya, Kakek segera membidik adegan manis di bawah sana. Membingkai kenangan manis, sebuah awal yang indah dari sebuah cerita.

Bersambung…

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like