Menjadi Sekolah Pertama Yang Menyenangkan

By

Penelitian menunjukkan bahwa karakter anak dipengaruhi suasana hati ibu saat mengandung, emosi ibu hamil bisa mempengaruhi bahkan menurun ke janin. Majalah Time juga menulis, “Keadaan mental wanita hamil dapat membentuk jiwa anaknya.” Pengamatan lain juga meneliti asal-usul janin, bagaimana kondisi mental ibu selama kehamilan mempengaruhi pertumbuhan fisik, mental, intelektual, dan emosional.

Seperti dalam sebuah syair arab “Al-ummu madrosatul ula’iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq yang artinya; ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.  Maka apa yang diungkapkan oleh  hasil penelitian tersebut jelas bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi buah hati bahkan sejak dalam kandungan.

Sebelum usia dua bulan, janin sudah dapat merasakan sentuhan dan rabaan. Bayi dapat membedakan antara sentuhan yang penuh kasih sayang atau sentuhan biasa saja  tanpa perasaan. Oleh sebab itu salah satu cara membangun ikatan sejak awal adalah dengan memberikan sentuhan.

Pendengaran bayi telah berfungsi pada akhir bulan kedua. Pada bulan keenam ia sudah dapat mendengar suara-suara dengan baik. Di dalam perut ia setiap hari mengamati suara detak jantung kita, suara udara dan makanan yang melewati lambung dan usus kita, suara nafas kita dan suara percakapan kita. Jika kita bersuara kotor atau membentak, ia terkejut dan mungkin ketakutan. Inilah mengapa wanita hamil harus menjaga sikap dan kata-kata. Usia 31 minggu diperkirakan beberapa persen kalimat-kalimat yang kita perdengarkan sudah benar-benar tererkam memorinya.

Untuk itu menjadi seorang ibu bukanlah tugas yang sembarangan karena mandat ini turun langsung dari Sang Pencipta Allah SWT. Yang Maha Berkehendak telah mempercayai kita dengan menitipkan benih di rahim kita tentu bukan tugas main-main. Ada tanggung jawab besar disana yang kelak akan dipertanyakan di akhirat nanti.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca juga menjelaskan bahwa semuanya diawali dari ibu, maksudnya bahwa seorang ibu harus mampu memahami dirinya, tidak bingung dengan dirinya, minimal seorang ibu sudah paham apa yang membuatnya merasa bahagia dan bisa memberikan ruang khusus untuk hal-hal tersebut. Istilalah yang mungkin biasa dipakai adalah seorang ibu harus selesai dengan dirinya. Bila ibu sudah  sudah selesai dengan dirinya maka ibu akan lebih mudah dalam memahami dan memandu bakat anak. Dengan demikian pula seorang ibu akan mampu menjadi sekolah pertama yang menyenangkan bagi buah hatinya.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like