Negeri Awan #2

By

Keluarga Ummi tinggal di daerah dataran rendah. Hamparan kebun sawit, Karet dan padi membentang di setiap daerah. Hampir setiap orang memiliki kebun. Sebagian ada yang mengolahnya sendiri namu banyak juga yang diserahkan oleh orang lain untuk mengolahnya. Selain itu masyarakat juga banyak yang memiliki lahan sawit di daerah perbatasan yang sudah berbeda provinsi.

Pagi ini suasana sedikit berbeda. Anak-anak sudah berangkat ke sekolah, tetapi mentari pagi sepertinya enggan menampakkan wujudnya. Ummi berharap hujan segera mengguyur tanah yang mulai merekah. Sumurnya berangsur mengering. Pipa air tak mampu lagi menjangkau permukaannya. Ummi mengambil dua buah ember. Ia meminta air ke tetangga sebelah untuk keperluan memasak dan minum. Sedang keperluan mandi dan lainnya, ia masih bisa menggunakan air dari sumurya walau tak lagi jernih. Tentu bukan dengan bantuan pompa air menaikkannya melainkan dengan timba.

Jumat siang Ummi mengikuti pengajian pekanan. Kebetulan lokasinga agak jauh dari rumah. Ia pun berangkat menggunakan motor. Sinar matahari terasa terik. Tapi seperti beberapa hari sebelumnya mentari tetap tak menunjukkan raganya.
“Maaf ya ibu-ibu, Bu Sri tidak bisa hadir katanya kurang sehat.” Ketua pengajian memberikan informasi tentang anggotanya.
“Sakit apa, Bu?” Tanya salah satu jamaah
“sakit tenggorokan dan sesak nafas.” Jawabnya.
Pengajian segera dimulai. Acara diawali dengan zikir, pembacaan al qur’an dilanjutkan dengan sholat ashar. Majelis ta’lim ditutup dengan menikmati hidangan yang disajikan.
“Sumur saya sudah kering, Bu. Tiap pagi saya harus angkut air.” Seorang ibu berjilbab ungu memulai pembicaraan.
“Kalau punya saya airnya keruh, Bu. saat diambil masih jernih. Tapi kalau sudah semalam seperti berminyak dan bau.”
“Padahal punya ibu sumur bor, ya?”
“Iya, Bu. Padahal udah dua kali lho saya dalamkan sumur bornya.” Jawabnya sambil menyruput teh hangat.
“Kita berdo’a saja semoga segera turun hujan.” Ummi ikut menimpali percakapan mereka.
Sesampai di rumah, Ummi melihat kedua anaknya baru pulang dari TPQ. Syafiq meminta izin untuk bermain sepeda bersama teman-temannya. Menjelang maghrib seluruh anggota keluarga ummi telah berkumpul di rumah. Mereka bersiap-siap menuju masjid melaksanaakn sholat maghrib.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like