Negeri Awan #3

By

Setiap akhir pekan, Abi dan ketiga anaknya melaksanakan jalan-jalan pagi. Banyak masyarakat yang berolahraga di akhir pekan. Mereka menikmati libur pekanan. mulai dari balita sampai lansia. Mereka saling bertegur sapa di jalanan. Setelah pulang jalan pagi, gorengan dan minuman hangat telah terhidang di meja makan.
Akhir pekan kali ini tidak seramai biasanya. Hanya beberapa orang dewasa yang turun ke jalan. Keluarga Ummi pun hanya di rumah. Menikmati cemilan yang sudah tersaji. Setelah sarapan mereka bergotong royong membersihkan halaman depan. Ada yang mencabut rumput, membersihkan saluran air, dan memangkas beberapa dahan yang mulai tak beraturan.
“ Enak ya Bi, cuaca tidak panas. jadi tidak terlalu capek.” Kata Azkia.
“Kak tengok deh, mataharinya seperti bulan, merah. nggak silau melihatnya.” Syafiq menimpali ucapan kakaknya.
“Itu disebabka oleh kabut asap. Cahaya matahari tertutup oleh asap.” Abi memberi penjelasan dengan pernyataan kedua anaknya.
Kabut semakain pekat. Kondisi udara semakin buruk. Kegiatan sekolah diliburkan selama tiga hari. Si bungsu Zahra sudah tiga hari tidak sehat. Ummi membawa Zahra ke puskesmas. Sesampai di sana betapa terkejutnya Ummi Karen begitu banyak pasian yang berobat, baik itu anak-anak maupun dewasa. Ia melihat ada beberapa pasien yang bahkan harus dirawat. Ummi bersyukur anaknya tidak dirawat inap.
Daerah Ummi bukanlah lokasi kebakaran hutan. Posisinya yang berada di perbatasan Jambi dan Riau membuat daerah ini mendapatkan pasokan asap yang lumayan banyak. Kondisi udara sudah tidak lagi sehat bahkan sudah level berbahaya. Banyak oorang yang mengalami batuk dan sesak nafas. sekolah pun kembali diliburkan selama satu minggu. Jarak pandang semakin dekat. semuanya memutih. Aktifitas diluar mulai dikurangi.
“Ummi, rumahnya Afif seperti tertutup awan.” Kata Syafiq suatu hari sambil menunjuk rumah temannya di seberang jalan.
Penderita ISPA pun semakain bertambah. Ummi kadang bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana dengan daerah yang mengalami kebakaran langsung. Tentu jauh lebih buruk dari pada di sini. Siapa yang betanggung jawab dengan kebakaran hutan ini. Semua orang hanya berharap semoga hujan segera turun menyelesaikan masalah kabut asap yang mendera.
End

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like