NIAT HAJI UNTUK BERIBADAH

By

Haji adalah rukun islam ke lima. Setiap muslim pasti berkeinginan untuk menunaikannya agar sempurna rukun islamnya. Seperti doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihissalam saat membangun ka’bah, jadikanlah hati manusia selalu rindu untuk mengunjunginya. Ya, berangkat haji. Ibadah yang paling banyak menuntut kesiapan baik mental maupun materi.

Berangkat haji juga memerlukan ilmu, niat yang benar serta keikhlasan. Ilmu yang wajib diketahui oleh jama’ah haji misalnya tata cara haji, bagaimana melakukan ritual-ritual haji, seperti berihram, tawaf, sa’i, mabit di Mina, melontar jumrah, wukuf di Arafah, hingga melakukan tahallul ketika semua rukun haji telah dikerjakan. Jama’ah haji sudah sepantasnya mengetahui tata cara ritual haji sesuai tuntunan Rasulullah. Niat yang benar pun harus dimiliki oleh calon jama’ah haji. Karena haji adalah ibadah yang istimewa, berkunjung dan beribadah ke Baitullah di Makkah. Kota suci lahirnya risalah islam. Niat yang benar diiringi pengetahuan akan makna di dalamnya, tanpa niat sekadar ingin mendapat gelar haji.

Tempo hari saya membaca status seorang teman. Bahwa haji itu butuh keikhlasan. Keihlasan dalam segala hal termasuk keikhlasan untuk tidak mengharap gelar haji disematkan kepada dirinya ketika sudah menunaikan ibadah haji. Dalam statusnya dia berkata bahwa sebaiknya jika hendak berangkat haji, lebih baik secara diam-diam tidak memberitahu orang lain akan keberangkatannya untuk menjaga keikhlasan hatinya. Karena dikhawatirkan terbersit riya’ dalam hatinya.

Saya pun membenarkan statusnya. Saya berkomentar memang seharusnya seperti itu, tidak perlu ada orang lain tahu, sehingga tidak perlu mengadakan walimatus safar. Seperti yang dilakukan orang-orang sebelum berangkat haji. Namun, sudah menjadi tradisi atau kebiasaan di masyarakat kita untuk mengadakan walimatus safar sebelum dan sesudah haji.

Memang banyak perbedaan pendapat tentang pembahasan walimatus safar. Di sini saya tidak menulis pembahasan dari arti kata walimatus safar secara bahasa, hanya menulis tentang beberapa pendapat mengenai boleh tidaknya mengadakan walimatus safar. Ada pendapat yang membolehkan untuk melakukannya, selagi tidak berniat untuk pamer atas kemampuaannya melakukan ibadah haji. Ada pula pendapat yang melarangnya, karena tidak termasuk syarat haji dan hanya termasuk tradisi yang kadang cenderung memberatkan bagi calon haji. Namun, ada pula yang membolehkan karena dalam suatu riwayat Rasulullah setelah berhaji menyembelih unta atau sapi dan makan bersama sahabatnya, atu biasa disebut Naaqi’ah.

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pulang dari safar dan masuk Madinah, beliau menyembellih onta atau sapi. (HR. Bukhari 3089). (Al-Majmu’, 4/400).
Hadits mengutip di konsultasisyariah.com, tulisan Ust. Ammi Nur Baits.

Masing-masing orang tentu memiliki pendapat sendiri dan kecenderungan mengikuti pendapat tertentu, tapi perlu diketahui apa niat melakukan walimatus safar. Apakah berniat mengumumkan keberangkatannya sehingga dikhawatirkan menjadi riya’ atau murni sebagai rasa syukur kita kepada Allah. Selain itu bagi yang menghadiri walimatus safar, apakah murni menghadiri undangan atau ada maksud lain untuk meminta oleh-oleh dan lain sebagainya. Karena memang di beberapa daerah, ada kasus dimana biaya untuk walimatus safar dan segala tetek-bengeknya lebih besar daripada biaya haji itu sendiri. Bukankah itu memberatkan? Padahal Islam itu tidak memberatkan umatnya. Sekali lagi, contoh dari Rasulullah adalah syukuran makan bersama setelah pulang dari ibadah haji.

Yang terpenting niat berhaji semata untuk ibadah, bukan niat untuk bergelar haji. Kepergian kita ke tanah suci pun semata untuk beribadah bukan untuk “plesir” dan berbelanja oleh-oleh. Murnikan ibadah haji tanpa embel-embel kegiatan lain yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah.

Wallahu a’lam. Ini hanya sebuah opini dari saya. Mohon maaf apabila banyak terdapat kesalahan dalam tulisan ini.

Semoga jama’ah yang melaksanakan ibadah haji menjadi haji mabrur. Dan semoga yang belum mrndapatkan panggilan ke Tanah Suci, suatu saat dapat melaksanakan rukun islam yang ke lima ini. Aamiin ….

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like