Obrolan Sore ini

By

Sore ini, kita mengadakan haflah bulanan di halaqoh, momen yang jarang, hanya satu bulan sekali tapi sangat dinanti-nanti oleh santri, entah karena tidak ada tanggungan setoran, atau karena bisa makan-makan , atau kadang kita bersama-sama makan di luar, impian para santri. Momen dimana kita lebih banyak ngobrol santai dan sharing bareng
Momen dimana aku sebagai musyrifah ingin mengetahui apa yang mereka rasakan ketika di halaqoh, apakah ada yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.

Sore ini, haflah kita memang dadakan, jadi seperti biasa kita pesan makanan dan kita makan di tempat biasa halaqoh kita, saung tercintah. Macam-macam yang kita pesan, ada yang pesan mie, nasi goreng, batagor, siomay, dan makanan pemberi kebahagian lainya, hehe.

Mulailah kita santap hidangan yang sudah tersedia, aku hanya pesan siomay karena masih ada nasi box yang belum aku makan, sambil makan kita mengobrol dari tentang serunya acara musabaqoh tahfidz kemarin yang mereka ikuti, tentang skripsi mereka sudah sampai mana.

Sampai di akhir makan-makan, aku sebagai musyrifah, biasanya memberikan nasehat untuk sekedar mengingatkan saja khusunya buat aku sendiri dan mereka juga.

Sore ini aku mengingatkan hal baru buat mereka, diluar kebiasaan yang aku sampaikan menjelang mereka ujian akhir kemarin, yang lebih banyak diingatkan untuk perbanyak muroja’ah, sering-sering memutar hafalan yang mau diujikan, latihan menggabungkan berjuz-juz dalam sekali duduk, dan lainya. Tapi lain sore ini, aku tahu mereka sudah naik level, bukan lagi tanggungan ujian tahfidz yang mereka hadapi, tapi lebih dari itu.

Aku awali nasehat itu dari perkataan seorang ulama besar Hasan Al Bashri berkata , ” Manusia itu diperintah agar mengamalkan Al Quran , tetapi mereka menganggap bahwa membaca Al Quran itulah yang disebut mengamalkan Al Qur’an.
Aku sampai ulang-ulang kata ulama itu, biar teringat dan dipahami oleh mereka.

Al Ajuri berkata, “Seseorang membuka-buka ( membaca Al Quran) itu untuk mendidik jiwanya. Cita-citanya, kapan aku menjadi bagian orang-orang yang bertakwa? Kapan aku menjadi menjadi bagian orang-orang yang khusyuk? Kapan aku menjadi orang-orang yang bersabar ?, kapan aku zuhud dari persoalan dunia? Kapan aku bisa menghentikan diriku dari nafsu?

Aku melihat mereka mulai mengangguk-anggukan kepala, kemudian aku lanjutkan sharing sore ini dengan contoh-contoh riil dalam kisah para sahabat agar lebih mudah. Alhamdulillah, aku hanya mengingatkan diri ini khususnya, dan saling mengingatkan kepada sesama tentang kebaikan, sedangkan hati-hati ini tetaplah dalam kuasaMu Ya Rabb.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like