PENDIDIKAN KEJUJURAN DALAM KELUARGA

By

 

            “ Prank…”   kaget aku setengah mati mendengar suara itu. Kucari dengan sudut mata Zakaria, anak bungsuku, tapi ia tidak terlihat. Aku semakin resah. “Suara pecahan apa itu ?” batinku bertanya.

“Ya Allah… selamatkan ia” aku begitu khawatir. Kucari cari Zakariaku. Ke mana perginya. Ketelusuri setiap sudut rumah tapi tak kudapatkan, walau sampai di lantai dua. Karena tidak kutemui, aku mencari ke rumah Ibu. Rumah ibu bersebelahan dengan rumahku. Sampai di depan rumah Ibu, kudapati Zakaria dipeluk Ibu  Wajahnya pucat sekali, seperti orang ketakutan atau kesakitan. Aku semakin cemas.

Aku menghampirinya. Ingin  memastikan ia baik baik saja. Ia menghindariku. Ibu semakin mendekap erat tubuhnya. Kulihat di sekeliling mereka banyak pecahan kaca. Ternyata meja sofa Ibu yang terbuat dari kaca pecah. Entah apa penyebabnya ia bisa pecah, karena sebetulnya kaca tersebut sangat tebal. Aku menatap wajah Ibu dan Zakaria, seperti menuntut penjelasan apa yang terjadi.

“Umi”, begitu Ibu memanggilku jika di hadapan anak anak. “Tadi Zakaria mau minta sirup Jidah (nenek), ternyata tangan Jidah tidak kuat memegang botol sirup sehingga botolnya jatuh tepat di atas meja. Jadi kaca meja pecah”. Aku mempercayainya karena Ibu tak pernah bohong dan memang tangan Ibu kini sudah tidak begitu kuat memegang sesuatu.

“Tidak apa apa. Tapi tidak ada yang kena pecahannya khan ?” selidikku.

“Alhamdulillah, tidak ada yang kena kok” jelas Ibu.

Aku menjadi tenang. Kulirik Zakaria, ia terlihat tidak suka dengan perkataan Ibu. Langsung ia protes, “Jidah yang jujur saja cerita ke Umi. Biar Umi tahu kejadian sebenarnya. Zakaria yang salah, Umi”

Aku kaget, berarti cerita tadi salah. Kupandangi wajah Ibu, terlihat beliau menyimpan sesuatu.

“Tadi zakaria mau minum, tapi …tapi karena terburu buru botol sirupnya jatuh dan kena mejanya Jidah. Pecahlah meja Jidah. Umi, Zakaria…Zakaria siap dihukum” kata Zakaria terbata.

“Cerita mana yang benar ini?” selidikku lagi.

“Sebetulnya benar cerita Zakaria. Tadi saat kaca pecah, Zakaria sangat ketakutan. Ia bilang pasti Umi dan Abi marah. Karena kasian Jidah tadi bilang mau bohongin Umi saja agar Umi tidak marahin Zakaria” jelas Ibu sambil malu malu

“Tapi Jidah tidak menyangka kalau Zakaria tidak suka dengan kebohongan dan malah jujur walau ia tahu akan ada resiko yang akan dia hadapi” lanjut Ibu.

Aku memang menyesal Ibu berbohong padaku, walau baru kali ini. Ia rela melakukan kebohongan demi sayangnya pada cucunya. Walau beliau tidak sadar sedang mengajari anak ketidakjujuran. Tapi kebahagiaanku menerima kejujuran Zakaria sangat membahagiakan. Rasa kecewa seakan sirna karena kejujuran yang Zakaria miliki.

Aku sangat terharu, kuhampiri dia. Kuambil dari pelukan Ibu yang seakan tidak rela aku memegangnya. Ibu masih khawatir aku akan memarahinya.

“Alhamdulillah Ya Allah, telah Kau berikan seorang anak yang jujur. Umi bangga padamu, Anakku. Pertahankan dan kembangkan sikap itu, Sayang. Umi tahu sangat berat bagimu untuk jujur karena kamu tahu akan ada sanksi setelah ini. Tapi kamu berani menerima semua konsekwensi dari kejujuranmu” kataku.

Tetes air mataku mulai turun ke pipi. Anak yang pernah kuragukan kejujurannya, kini telah menunjukkan jati dirinya. Zakaria adalah anak yang sangat kreatif, selalu ada saja ide segarnya untuk mencerahkan suasana. Kadang saat ide segar tersebut muncul terkesan ada kebohongan di mulutnya. Aku sulit membedakan apa ini bentuk ketidakjujuran atau hanya sebagai ide lucu yang ingin ia tampilkan. Tapi dengan kejadian ini aku percaya kejujurannya. Di saat sangat terdesak dan ada peluang berbohong ia, masih mampu berkata jujur.

“Anakku, mengapa tadi kamu jujur, Sayang, bukankah Jidah sudah membantumu untuk menyelamatkan diri ?” tanyaku penasaran.

“Aku sering menerima nasehat dari Umi, Abi dan para guru, katanya kejujuran adalah hal yang paling penting. Aku pun sering mendengar Abi berdoa dengan khusyu dan minta anak anaknya menjadi anak yang jujur. Jadi aku ngak mau mengecewakan Abi dan Umi” katanya mulai tenang. Kuciumi wajahnya. Aku suka mendengar celotehnya.

“Aku juga lihat Kak Isa sering jujur pada Abi walau setelah itu ia dimarahi Abi. Tapi Abi selalu bangga dengan kejujuran Kak Isa. Kak Yahya juga. Ia paling tidak suka punya teman mencontek. Kata Kak Yahya mencontek itu bentuk ketidakjujuran, jika tidak jujur nanti ilmunya tidak manfaat. Zakaria juga ingin dicintai Allah SWT, Umi, jadi Zakaria tetap akan jujur ”, celotehnya lagi. Bukan Zakaria namanya jika ditanya, ia menjawab singkat. Zakaria tipe anak yang saat kita bertanya satu kalimat ia bisa jawab puluhan kalimat.

Aku terus menyimak alasan demi alasan yang ia lontarkan. Sambil terus mempelajari apa yang membuatnya menjadi jujur seperti ini. Lama lama aku jadi mengerti, ini semua karena adanya pendidikan dalam keluarga yang dijalankan dengan baik sehingga melahirkan produk yang sesuai dengan misi utama.

Masing masing anggota keluarga telah menjalankan tugasnya dengan baik, dan mampu mencetak adonan dalam loyang yang sama bentuknya, sehingga lahirlah input yang sama dengan adonan sebelumnya. Ini adalah proses duplikasi karakter dalam keluarga. Tidak perlu banyak bicara tapi contoh nyata akan semakin membekas.

Peristiwa yang tadi terjadi adalah pembakaran dari adonan yang sudah di loyang siap dimatangkan, sehingga akan lahir produk akhir yang layak untuk disantap. Pembakaran ini ibarat ujian yang harus diselesaikan agar kita bisa menilai hasil dari sebuah proses. Inilah  keutamaan pendidikan dalam keluarga. Guru telah menancapkan karakter dengan baik di sekolah, di rumah dilanjutkan, sehingga akan tercipta sebuah karakter pada seorang anak.

Terima kasih Ya Allah, telah Kau beri hadiah isitimewa pada kami, di saat usianya menginjak tujuh tahun dengan menguatnya karakter kejujuran pada Zakaria. Hadiah terindah untuk kami.

 

#ChalengePL

#pendidikankejujurandalamkeluarga

 

2 Comments
  1. Yayas 1 year ago
    Reply

    Mā syāa Llãh…😭
    Dahsyatnya kekuatan cinta!
    Sungguh, apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati (Al Ghozali)
    Allahummaj’alnā wa auladanā minashshãdiqin…🤲

    • nadjibah yahya 1 year ago
      Reply

      Dari hati dan pikiran gurunya jugalah yang membuat ananda berkembang sejauh ini. Jazakumullah khairon

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like