Petaka Atap Rumah Kosong

By

Sore ini langit gelap sekali, butiran-butiran air masih terus jatuh ke bumi. Pak Kocah baru saja keluar dari bus, pulang dari kantor di pusat kota. Payung yang disiapkan tertinggal di kantor, terpaksa ia harus berlari untuk menghindari air. Pak Kocah memutuskan untuk berteduh sejenak di sebuah rumah kosong pinggir jalan. Menunggu rinai hujan yang deras untuk melambat.

Pak Kocah menatap kanan dan kiri, tak ada orang lain selain dirinya yang berteduh di sana. Mungkin hanya aku yang kelupaan payung, ya. Rintihnya dalam hati. Rumah sederhana ini, awalnya sebuah warung. Warung yang ramai ketika hujan datang, karena posisinya di pinggir jalan, banyak orang yang niat berteduh sebentar. Namun kenyataannya malah duduk dan akhirnya memesan minuman hangat sambil menunggu hujan reda. Namun sudah dua tahun belakangan ini, tak ada yang menempati.

Rumah ini memiliki seng sebagai kanopi di terasnya. Cukup untuk menampung sepuluh orang jika mereka ingin berteduh. Warung ini didominasi oleh unsur kayu, dan sudah mulai melapuk di sana sini. Mungkin karena diterpa air dan panas. Pak Kocah mengamati warung tersebut dengan seksama, mengingat masa-masa kejayaan warung sederhana ini.

Suara gas motor yang digeber, membuyarkan lamunan Pak Kocah. Motor itu berhenti tepat di sebelah Pak Kocah. Pengendaranya sengaja memarkirkan motornya di bawah kanopi, sehingga motor dan dirinya aman dari hujan. Pak Kocah mengangguk santun sambil tersenyum. Sang pengendara melepas helmnya dan balas mengangguk. Kini keduanya terdiam menatap pemandangan hujan di hadapan mereka.

Tak lama kemudian, penjual kopi ikut bergabung bersama mereka.

“Wah, ini baru pas. Kopinya satu, Bang!” kata Si Pengendara Motor, “Ayo, Pak. Kita ngopi sambil nunggu hujan reda,” lanjutnya.

“Oh, silakan, Pak. Saya pilih nge-jahe saja,” jawab Pak Kocah setelah menengok rencengan minuman yang digelar di keranjang sepeda.

Sang Penjual Kopi langsung membuatkan pesanan keduanya. Dengan lihai ia memasukkan bubuk minuman, menambahkan air panas ke gelas dan mengaduknya hingga rata. Tak sampai lima menit, pesanan sudah jadi. Minuman hangat sudah siap disantap.

Udara yang basah dan lembab akibat hujan ditambah semilir angin, cukup membuat orang yang kehujanan menggigil. Minuman hangat di tangan Pak Kocah, cukup membuat dirinya hangat. Ditatapnya langit yang semakin cerah, rinai hujan sudah melambat berganti dengan gerimis. Pak Kocah tersenyum, akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanan ke rumah.

Si Pengendara Motor yang juga melihat cuaca semakin cerah, segera membayar minuman yang ia beli. Ketika ia rasa sudah cukup kopi yang ditenggaknya, ia berjalan ke ujung kanopi dan melempar gelas kopi plastik yang ia gunakan ke atap kanopi. Kini ia sudah bersiap di atas motornya, hendak melanjutkan perjalanannya. Pak Kocah yang melihat perbuatan tak baik itu, langsung buka suara.

“Lho, Pak. Kok, gelasnya dibuang ke atap kanopi?”

“Lha, yang penting saya tak membuang sampah ke sungai, Pak. Kan tidak ada tempat sampahnya,” ucap Si Pengendara Motor membela diri.

“Iya, Pak. Tapi kan….”

“Ya sudah, Pak. Lain kali saja, ya. Saya, duluan. Mari….”

Si Pengendara Motor melaju pergi, meninggalkan Pak Kocah dan Penjual Kopi di depan rumah kosong.

“Aduh, apanya yang lain kali. Ck… Ck… Ck…..” kata Penjual Kopi.

“Memang Bapak sering melihat orang itu?” tanya Pak Kocah penasaran.

“Bapak tadi mah, sering nongkrong di sini, Pak. Mau panas, mau hujan, tiap kali!”

Pak Kocah mengangguk-angguk. Dalam hati Pak Kocah berdo’a. Semoga Allah melembutkan hati Bapak itu, agar mau membuang sampah pada tempatnya. Aamiin.

bersambung …

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like