PROLOG

By

Seorang perempuan dengan tudung hitam melintas di tengah gerimis malam. Di tangannya ada sebuah tas berkulit kusam, menandakan bahwa usia tas itu sudah sangat tua. Paras Sang Perempuan tak terlihat di balik tudung, namun senyum yang ia sunggingkan, selalu membuat orang yang berpapasan dengan dirinya ikut tersenyum. Senyum dari bibir merahnya yang manis, namun nampak ganjil.

Perempuan itu berhenti di sebuah toko tua di pinggir kota. Ia mengeluarkan sebuah kunci dan memasukkannya ke lubang kunci di hadapannya.

“Klik…”

Pintu toko terbuka. Ia melangkahkan kakinya ke dalam. Bola matanya memerah di dalam gelap, ditatapnya toko tua ini. Tangannya mengayun. Tiba-tiba listrik menyala, semua lampu terang. Kini ia bisa melihat toko yang penuh debu dan ditutupi oleh sarang binatang berkaki delapan.
Rak toko yang terbuat dari kayu, masih kuat menancap di dinding. Rak lainnya di tengah toko terbuat dari besi. Tampak cat yang sudah lapuk termakan usia, pecah di sana sini. Nampaknya toko ini sudah lama tidak dihuni. Bola lampu di toko ini juga perlu diganti, ada beberapa bola lampu yang pecah.
Perempuan itu kemudian menatap ke belakang. Dilihatnya dengan seksama kaca beserta nama toko di bagian depan. Keduanya masih dalam keadaan baik, hanya tertutup debu. Kanopi toko sedikit sobek diterjang angin dan termakan usia.

Tangan perempuan itu berayun. Tiba-tiba terang lampu di ujung jalan menghilang, gelap. Tangannya berayun lagi, sebuah untaian kalimat terucap. Seluruh benda mulai melayang-layang. Rak seakan bergelombang menghapus debu dari permukaannya. Serpihan kaca di lantai berterbangan menyatu dengan bola lampu. Sapu, pengki, kain lap, semua berterbangan dengan sendirinya, menuju sudut-sudut ruang yang butuh diberishkan. Seolah-olah ia tahu bagian mana yang harus dibersihkan. Perempuan itu tersenyum, toko ini akan rapi sebelum esok pagi.

Denting jam kuno berbunyi, tepat pada dentingan ke sebelas, toko sudah rapi. Semua debu sudah bersih, semua kerusakan sudah diperbaiki dan tak ada lagi sarang laba-laba. Kini perempuan itu mengayunkan tangannya lagi. Beberapa toples dan beberapa benda keluar dari tas tuanya. Terbang kemudian berjejer rapi di rak yang sudah bersih dan cantik.

Selesai. Teriak perempuan bertudung hitam di dalam hati. Ia melompat-lompat kesenangan.

Ia berbalik dan menghadap kaca depan toko. Diayunkannya lagi tangannya. Tiba-tiba muncul sebuah tulisan di kaca toko, Magical Shop. Perempuan itu tersenyum puas. Ia ayunkan lagi tangannya dan terang kembali muncul di ujung jalan.

Perempuan itu kemudian mengambil papan tulis hitam dan kapur. Ia menuliskan beberapa kata. Setelah puas, ia gantungkan papan itu di samping jalan masuk toko.

Hati kadang bisa putih, bisa juga hitam.
Sang pemilik hati lah, yang harus bisa menjaga hatinya dengan baik.
Supaya tetap putih.
Atau berubah menjadi putih.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like