[Sekolah baru Kakak] Kakak masuk SD

By

Setelah melalui wacana zonasi dan batasan usia minimal 7 tahun yang sempet bikin dag dig dug, tahun ini si kakak sebentar lagi resmi menyadang status siswa sekolah dasar (SD). Di usia yang memang belum genap 7 tahun (6,5 tahun) akhirnya gadis kecilku diterima di sekolah negeri pilihan kami. Ini bukan hanya sekolah pilihan kami sebagi orang tua melainkan pilihan putri kami juga. Kakak yang sudah ribut terus menanyakan kapan daftar sekolahnya kini terlihat senang dan girang.

Mungkin beberapa rekan, saudara atau tetangga ada yang bertanya “kenapa nggak di SD A aja atau SD B saja?” yang memang sedang jadi tren saat ini. Ditengah maraknya orang tua yang berbondong-bondong memasukkan anakknya ke fullday school yang lebih mengutamakan pendidikan agama mungkin pilihan kami agak berbeda. Bukan kami tak mementingkan nilai agama dalam pendidikan anak karena sejak putri kami berusia 3 tahun pun kami sudah mencoba memasukkannya ke Taman Pendidikan Alquran meski hanya bertahan 3 hari dan baru mulai lagi setelah usianya menginjak 4 tahun. Sekarang sudah mau belajar sholat, ngaji (sekarang sampai Iqro empat) dan hafal beberapa doa-doa harian bagi kami sudah alhamdulillah karena kami sadar betul bahwa kemampuan setiap anak itu berbeda.

Melihat situasi dan kondisi saat ini dimana pergaulan anak dan lingkungan seringkali bikin miris kami sadar perlu membekali anak dengan ilmu agama sedini mungkin dan TPQ menjadi pilihan kami selebihnya biarlah putri kami belajar dan bertumbuh dilingkungan yang heterogen. Biarlah putri kami tahu bahwa sejatinya kita harus hidup berdampingan dengan berbagai suku, ras dan agama dimana kita harus bisa saling menghormati dan menghargai antar sesama. Biarlah nantinya putri kami belajar bagaimana untuk bisa tetap memegang prinsipnya ditengah lingkungan yang heterogen.

Kami juga sadar bahwa dalam dunia pendidikan pun ‘ada harga ada rupa’, ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan apa yang disebut-sebut sebagai pendidikan yang berkualitas tinggi. Namun kami tak ingin memilih sekolah hanya karena latah atau mengikuti tren saat ini terlebih hanya mengedepankan gengsi. Kami mengukur kemampuan kami sebagai orang tua dan juga kemampuan anak yang akan menjalaninya. Sehingga sampailah pada keputusan  “Ya, inilah sekolah pilihan kami!”. Setelah melalui seleksi administrasi dan wawancara langsung dengan calon peserta didik, Alhamdulillah sekarang kakak punya calon sekolah baru. Semoga enam tahun kedepan kakak bisa melaluinya dengan baik dan kami sebagai orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mendampingi dan memfasilitasi semua kebutuhan sekolah kakak. Insya allah bersama-sama kita bisa karena bagaimanapun pendidikan yang utama adalah dari dalam keluarga.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like