Sekolah itu bernama Sekolah Liburan

By

Libur sekolah tahun ini hampir tersambung dengan libur hari raya Idul Fitri. Artinya, libur panjaaaaaaaang.
Iki sebagai pelajar, tentu gembira. Namun bagi kami orang tuanya, perlu pemikiran keras untuk mengantisipasi efek liburan yang biasanya menimbulkan kelembaman.
Idealnya saat liburan,  fisik dan ruhaniah, bahkan kognisi anak tetap terjaga. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Sejak Ramadhan, otak delapan tahun Iki sudah mulai enggan diajak mengunyah materi pelajaran. Tampaknya ingin ikut berpuasa selayaknya perutnya😄
Dan ketika libur tiba, lampu merah di kepalanya pun menyala seakan berseru, “stop belajar! Libur artinya ya libur”.

Ramadhan tidak membawa masalah pada wilayah ruhani Iki karena kegiatan sahur justru mengajaknya bangun lebih pagi dan ke masjid lebih awal waktu. Untuk fisik pun tidak perlu kami mengkhawatirkannya karena Iki tergolong anak kinestetis yang sangat menyukai aktifitas fisik. Latihan renang setiap sore berselang dengan taekwondo pun tetap dijalankannya dengan gembira.

Permasalah mulai muncul saat lebaran Idul Fitri tiba. Perayaan Idul Fitri dengan segala aktivitasnya baik mudik maupun anjang sana silaturrahmi menyebabkan kelelahan fisik yang akhirnya mengganggu jam tubuh Iki. Adakalnya kami baru tiba dari luar kota saat tengah malam atau bahkan dini hari. Alhasil, terkadang sholat subuh Iki keluar dari irama waktunya. Mata, pikiran dan hati pun tidak bersahabat dengan ritual mengajinya di pagi hari. Pendek kata, aktifitas ibadah Iki tak lagi istiqomah di rel kedisiplinannya.

Berdua dengan suami, kamipun mulai mendesain sekolah pengganti bagi sekolah formal Iki yang sedang libur. Kami mememberinya nama sekolah liburan. Dalam sekolah tersebut, kami sengaja tidak menyajikan materi pelajaran sekolah dalam kurikulumnya, tetapi fokus pada kompetensi ibadah harian.
Iki belajar lagi untuk hadir dalam jamaah subuh sebelum muadzin menyerukan iqomah. Dan ketika Iki berhasil, maka dia akan mendapatkan hak menikmati tayangan televisi. Liburannya pun akan semakin terasa mewah dengan fasilitas perizinan tidur siang di kamar kami apabila dia berhasil menyelesaiakan tantangan bangun tidur sebelum adzan subuh berkumandang.

Liburan artinya bermain di luar rumah bersama teman-teman dalam dunia Iki yang kanak-kanak. Dan kami meyediakan tiket bermain itu secara bebas bagi Iki ketika dia berhasil dengan baik menyelesaiakan tugas tilawah Qur’an, hafalan dan murojaahnya (kami biasa meringkas ketiga kegiatan tersebut dengan sebutan belajar mengaji). Arti berhasil baik dalam sekolah liburan kali ini agak berbeda dengan pengertian biasanya. Sebelumnya, belajar mengaji dinilai baik jika ketiga kegiatan tersebut telah dilaksanakan. Namun dalam kegiatan membaca Al Qur’an, menambah hafalan dan murojaah, Iki masih seringkali tantrum. Untuk mengelola tantrum itulah pengertian berhasil baik ini kami ubah kriterianya menjadi tidak marah selama belajar mengaji. Kami pun memperbaharui kontrak belajar dengan Iki. Tidak lagi belajar ngaji (karena sebenarnya Iki sudah cukup baik dan lancar membaca Al Qur’an), tetapi belajar ikhlas. Ikhlas artinya tidak marah saat mengaji. Bahasa kerennya anger manajemen gitulah😁. Apabila Iki tidak berhasil ikhlas saat mengaji di hari itu, maka pintu menuju arena bermain terkunci untuknya. Dan sebagai gantinya kami menyodorkan buku yang wajib dibacanya saat liburan📚👓

Sisa beberapa hari lagi liburan sekolah Iki berakhir. Semoga Iki dapat menjalani tahun ajaran baru di sekolah dengan disiplin ibadah dan keihklasan yang lebih baik. Sikap baru hasil tempaan di sekolah liburannya tahun ini. Aamiin.

 

Hidup itu tentang pilihan dengan resiko  yang selalu menyertainya. Kita bebas memilih sesuatu yang baik dengan resiko kebahagian, atau memilih sesuatu yang buruk dengan ketidaknyamanan yang menyertainya

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like