SEKOLAHKU PILIHANKU

By

Punya anak yang mau masuk sekolah tentu jadi pengalaman tersendiri bagi orang tua. Baik itu TK,SD,SMP ataupun SMA. Baik yang memutuskan untuk sekolah formal atau sekolah di rumah, ataupun kursus di lembaga tertentu.

Begitu juga dengan saya, tahun ini anak kedua saya, Naia (6 tahun 9 bulan) masuk Sekolah Dasar. Sebelum memutuskan Naia untuk masuk di Sekolah pilihan kami. Saya dan suami melakukan survey dahulu ke beberapa sekolah. Ini penting, karena Naia akan menjalani Sekolah Dasar selama enam tahun. Jangan sampai kita salah pilih, karena akan berujung kepada anak-anak yang tidak nyaman dan memilih untuk mogok sekolah.

Apa saja yang menjadi penilaian kami dalam memilih sekolah? Yang pertama kami memilih Sekolah Islam Terpadu, karena kami ingin anak-anak kami lebih banyak belajar tentang agama. Nah, dengan mengerucutkan seperti ini, tentu kami tidak perlu melirik sekolah lain. Fokus kami ya sekolah IT. Kemudian lanjut dengan menulis list sekolah IT yang ada di sekitar tempat tinggal kami. Jarak menjadi poin penilaian kami yang kedua, sebisa mungkin kami memilih sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah. Ini agar anak tidak terlalu lelah berada di jalan. Karena kalau dia sudah lelah, tenaganya sudah habis di jalan, maka di sekolah semangatnya bisa berkurang.

Poin selanjutnya adalah visi dan misi sekolah. Ini harus sejalan dengan visi dan misi kami sebagai orang tua. Ya nggak harus sama persis, minimal bisa beriringan lah. Karena sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak-anak. Jadi menyekolahkan anak bukan berarti melepas tanggung jawab pendidikannya ke pihak sekolah, tapi kita hanya mencari pihak ketiga untuk bisa bekerja sama dalam mendidik anak-anak kita.

Poin ke empat adalah tenaga pendidik. Sebisa mungkin kami mencari tahu bagaimana karakter pendidik di sekolah itu, apakah bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak atau tidak. Nah ini ada hubungannya dengan poin kedua, dengan sekolah yang dekat dari rumah biasanya tenaga pengajar nya juga tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal kita. Sehingga kita bisa tau seperti apa mereka. Ini membuat kita lebih percaya untuk memilih sekolah tersebut menjadi mitra kita dalam mendidik anak.

Poin ke lima, biaya. Hal ini tidak boleh terlupakan, karena jika poin-poin yang lain mendukung namun biaya tidak sesuai dengan kemampuan kita, maka kita harus mencari second opinion. Ini penting, untuk kenyamanan kita dan anak-anak juga. Jangan sampai ketika anak-anak sudah nyaman belajar di situ, di tengah jalan kita terseok-seok dalam pembayaran uang sekolahnya.  Sesuaikan dengan isi dompet kita ya ayah bunda.

Poin ke enam, anaknya harus nyaman dan mau sekolah di situ. Nah, kalau ini setiap saya survey sekolah, Naia harus ikut. Saya akan tanya pendapatnya, dia mau atau tidak sekolah di situ. Karena dia yang akan sekolah, dia yang akan menjalani, jangan sampai dia merasa terpaksa sekolah di situ.

Tentang fasilitas sekolah itu menjadi poin ke sekian buat kami. Yang terpenting poin-poin di atas terpenuhi, itu sudah cukup buat kami. Demikian sedikit cerita dari saya tentang memilih sekolah, semoga bisa sedikit membantu ayah dan bunda untuk menentukan sekolah buat anak-anak kita. Karena waktu mereka akan lebih banyak di sekolah, jadi kita usahakan mencari sekolah yang nyaman buat mereka.

Sekarang Naia sudah nggak sabar mau masuk sekolah, semua perlengkapan sekolah sudah di siapkan dari kemaren-kemaren hehe. Semoga Naia nyaman sekolah di situ dan sekolah bisa membantu Naia untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan unik dirinya.

#kembalikesekolah

#challengePL

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like