Senja Yang Dirindukan

By

“Ayo, Ja, buruan. Nanti kita ga kebagian kursi. Capek, ah, kalo harus berdiri,” Sarah menarik lenganku.

Membuatku terpaksa menyusul derap kakinya yang berlari kecil meninggalkan lobi. Menjelang senja, rutinitas padat para pegawai kantoran di kota ini, seperti burung yang terbang bersamaan dari sebuah pohon besar. Berhamburan.

Kami pun sampai di halte yang hanya berjarak beberapa meter dari kantor. Di sana sudah ada kerumunan para pegawai yang juga menanti bus kesayangan. Sejak tiga bulan terakhir aku merasa nyaman naik bus kota. Peremajaan kendaraan angkutan umum dan perubahan infrastruktur dilakukan besar-besaran sejak walikota baru terpilih. Fasilitas publik diperbanyak dan dibuat senyaman mungkin.

Bus fanta eye catching pun datang, meski kami mencoba antri, tetap saja ada dorongan dan desakan dari belakang yang membuat kami harus cepat-cepat naik. Sarah sudah dapat duduk duluan, di barisan kedua dari belakang. Aku maju sambil menoleh kiri kanan mencari tempat kosong. Ah, itu, ada yang kosong, tiga baris di belakang sopir. Segera saja aku duduk.

Baru saja aku mencoba bernapas lega, lepas dari himpitan desakan saat menaiki bus ini tadi, sebuah suara yang begitu kukenal, menyapaku,

“Wangi parfummu masih sama. Setia banget, sih, jadi orang.”

Sontak kupalingkan kepalaku ke kanan, kepada orang yang duduk di sebelahku. Deg! Kaget bukan main. Paras wajah yang belakangan ini aku impikan, menjelma kenyataan. Tuhan, bantu aku agar dia tak mendengar debar jantungku yang berdetak kencang.

“Rain??”

“Hm, ya, gini nih, kalau jodoh mah nggak akan ke mana. Iya, kan?!” senyum manisnya membuatku gugup.

Kikuk. Bingung harus bicara apa.

“Jauh-jauh dulu kita ketemu di Bandung. Sekarang, siapa sangka kita bakal ketemu lagi di Surabaya. Apa kabarmu, Senja?”

Aah … caranya mengucapkan namaku, benar-benar sama seperti dulu.

“Mm, a-aku baik-baik aja, kok. Sehat. Seperti yang kamu lihat,” susah payah aku menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaannya tadi.

Semoga dia tidak menangkap kekikukan sikapku. Ya ampun, please Ja, jangan norak begini, dong! Kayak anak ABG lagi naksir gebetan aja. Aku mengomeli diriku sendiri.

“Lagi ada kerjaan di sini, ya? Udah berapa lama?” Aku mulai bisa menguasai diri dan bertanya padanya.

“Iya. Udah beberapa hari, sih. Dan udah beberapa hari juga tiap kali lewat gedung itu aku berharap bisa ketemu kamu,” jawabnya sambil menatap pupilku.

Kupalingkan mukaku, menghindari tatapannya.

“Kan bisa WA kalo misalnya ada kepentingan mau ketemu.” Seperti tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja. Ups, kenapa malah ngasih lampu hijau, sih.

“Apa? Serius, nih? Kamu sebenernya nungguin WA-ku dan pengen kita ketemuan, gitu?” dia meninggikan suaranya. Excited.

Kami berdua hening sesaat, mungkin sama-sama menenangkan diri, atau mengingat kembali dua tahun lalu. Aku mengenalnya ketika aku kerja di Bandung, masih fresh graduate. Dia sudah kerja setahun lebih dahulu, tapi beda departemen denganku. Sosok yang menyenangkan, selalu bersemangat dan visioner. Friendly.

Bukan love at the first sight, tapi sekian lama berinteraksi dan ada banyak hal darinya yang aku suka, menghadirkan rasa lain dalam hatiku. Sepertinya dia juga memendam perasaan yang sama, dilihat dari sikap dan tingkah lakunya.

Belum sempat kumaknai rasa ini; cinta ataukah suka saja, aku harus menyerah. Sepupuku, Teh Izmi – anak dari Pakdhe Arman yang menampungku semasa aku kerja di Bandung – ternyata sudah menyukainya sejak dulu ketika masih kuliah. Ya, mereka teman kampus. Saat Teh Izmi tahu Rain sekantor denganku, dia antusias sekali bertanya ini itu. Bahkan menyuruhku mengajaknya main ke rumah.

Sebelum ini berjalan semakin jauh, lebih baik aku akhiri saja perasaanku. Aku sangat tidak enak ‘bersaing’ dengan Teh Izmi. Apalagi Pakdhe Arman sudah begitu banyak membantu keluarga kami. Sejak ayah meninggal, kakak tertua ibuku itu sangat peduli kepada kami. Lalu aku memutuskan kembali ke Surabaya, kota kelahiranku. Sambil mencari-cari pekerjaan lagi.

“Hei, kok ngelamun, sih? Nanti aku WA, ya. Harus dibales, jangan di-read aja. Berat tau, nungguin balesan WA dari orang yang kamu taksir. Emangnya, kamu ga pernah?”

Suaranya membuyarkan anganku yang memanggil ulang kenangan.

“Eh, apa??” tergagap aku menjawab. Lalu kurasakan panas menjalari pipiku.

“Di halte depan aku turun. Kita ngobrol lagi nanti malam, ya. By the way, makasih.”

Aku heran, “Makasih apa?”

“Makasih udah jadi senja yang selalu aku rindukan selama ini. Dua tahun itu bukan sebentar. Apalagi kamu terus menghindar hanya demi alasan keluarga. Tapi aku bisa jamin, perasaanku ke kamu masih sama.”

Senyum manisnya kembali membiusku.

Bus berhenti, dia pun permisi, berdiri dari kursinya dan melangkah keluar bus. Kutautkan pandanganku pada sosoknya saat bus kembali melaju perlahan. Ya Tuhan, apa ini tadi? Senja yang dia rindukan? Dan debar jantung ini kembali berdegup lebih kencang.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like