Catatan dari Talkshow Writing for Healing

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah karena mendapat kesempatan untuk berbagi kepada masyarakat tentang menulis. Kali ini founder Pejuang Literasi, Mbak Hessa Kartika bersama Mbak Dian Eka, konselor pendidikan berbagi tentang manfaat menulis untuk menyembuhkan jiwa. Write, Love, Live - Mengubah Luka Menjadi Karya merupakan tagline yang diangkat pada event tersebut. Bertempat di Java … Continue reading Catatan dari Talkshow Writing for Healing
By

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah karena mendapat kesempatan untuk berbagi kepada masyarakat tentang menulis. Kali ini founder Pejuang Literasi, Mbak Hessa Kartika bersama Mbak Dian Eka, konselor pendidikan berbagi tentang manfaat menulis untuk menyembuhkan jiwa.

Write, Love, Live – Mengubah Luka Menjadi Karya merupakan tagline yang diangkat pada event tersebut. Bertempat di Java Mall, acara tersebut cukup menarik perhatian beberapa pengunjung mall yang berlokasi di pinggiran Semarang. Memang masih banyak yang belum memahami bahwa menulis memiliki banyak manfaat. Bukan hanya sekedar untuk meluapkan rasa dan imajinasi. Bagi sebagian orang menulis bisa menjadi terapi atas trauma diri terhadap masa lalu dan luka hati yang pernah terjadi, sebagaimana diungkapkan oleh Mbak Hessa.

Mbak Dian Eka selaku konselor pendidikan yang banyak bertemu dengan para siswa dan remaja dengan segenap permasalahannya juga menceritakan bagaimana teknik writing for healing digunakan untuk menerapi ‘pasien-pasien’nya agar bisa release dari semua rasa sakit. Diceritakan oleh Mbak Dian bahwasanya teknik writing for healing ada berbagai macam. Namun yang banyak direkomendasikan adalah teknik expressive writing.

Di sini kita bebas menulis apa saja yang ada di dalam pikiran kita. Mau mengumpat, ataupun hanya sekedar menulis tanda tanya pun bukan masalah. Selama apa yang kita coretkan memberikan kelegaan untuk jiwa. Mbak Dian mengungkapkan tulisan ekspresif yang tersusun tadi setelah selesai tercurahkan semua, bisa dibakar, dibuang atau disimpan dalam sebuah kardus yang kelak bisa dibaca ketika perasaan luka sudah membaik.

Tak akan ada habisnya membahas mengenai writing for healing. Mungkin lain kali admin akan membagikan teknik-teknik lainnya berkaitan dengan pembahasan ini. Jangan lupa untuk hadir di setiap event Pejuang Literasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like