Inilah 5 Teknik Jitu Membuat Paragraf Pertama yang Menarik

Terkadang kita tidak segera mulai menulis karena bingung bagaimana membuat sebuah paragraf yang bisa mencuri perhatian pembaca sejak pertama kali mereka mengarahkan mata pada hasil karya kita. Kunci agar pembaca terus membaca atau berhenti di tengah jalan karya kita, memang terletak pada paragraf pertama. Jika kita berhasil membuat pembaca terlena, terharu ataupun penasaran, maka kita … Continue reading Inilah 5 Teknik Jitu Membuat Paragraf Pertama yang Menarik
By

Terkadang kita tidak segera mulai menulis karena bingung bagaimana membuat sebuah paragraf yang bisa mencuri perhatian pembaca sejak pertama kali mereka mengarahkan mata pada hasil karya kita. Kunci agar pembaca terus membaca atau berhenti di tengah jalan karya kita, memang terletak pada paragraf pertama. Jika kita berhasil membuat pembaca terlena, terharu ataupun penasaran, maka kita akan berhasil menaklukkan hatinya di paragraf-paragraf berikutnya. Lantas bagaimana caranya membuat paragraf yang menarik? Yuk, ikuti 5 tips ini!

Mulailah dari Aksi/Konflik

Ayo … tidak ada salahnya mulai dari aksi/konflik. Berikut contoh awalan naskah yang menarik dimulai dari aksi/konflik.

Mataku terbelalak tidak percaya. Bisa-bisanya kepercayaanku ini dihancurkan dengan sekejap mata. Hanya dengan satu gerakan ringan, ya, gerakan ringan antara dirimu dan perempuan itu. kalian saling berpelukan dan berkata tentang cinta. Hatiku hampa, seketika itu pula bunga mawar yang baru saja kau berikan jatuh dari tanganku.

Siapa yang penasaran dengan lanjutan ceritanya? Tunjuk tangan!

Nah … bisa juga. Tidak ada salahnya dimulai dari konflik. Justru bisa dikatakan bagus juga. Langsung saja berikan aksi, ya aksi dulu setelah itu barulah mulai cerita pembukaan.

Bukan hanya dalam karya sastra tulis. Dalam film-film juga sangat banyak menggunakan aksi/konflik terlebih dahulu. So, tidak susah kan membuat paragraf pertama sebagai aksi/konflik?

Mulailah dengan Tanda Tanya

Eits ini apa pula maksudnya? Kok tanda tanya. Jadi, paragraf itu hanya tanda tanya saja? Hahaha tentu saja bukan. Maksudnya sini, mulailah sebuah paragraf yang berakhir dengan tanda tanya. Hmm … coba deh perhatikan kalimat di bawah.

Sebuah mimpi yang datang selama tiga hari berturut-turut. Seorang gadis datang menuntunku, bermain, dan menciumku. Dia juga memberitahukan namanya dan mengatakan perasaannya kepadaku. Aku juga mencintainya. Tapi … apakah cintaku ini bisa dipertahankan?

Oh … ngeri-ngeri sedap ini namanya. Itulah maksudnya, mulailah dengan tanda tanya. Tidak susah bukan? Cuman ya … terkadang membuat paragraf yang memulai dengan tanda tanya memiliki kerumitan tersendiri. Kenapa? Menurut pengalaman untuk menyambung paragraf pertama yang tanda tanya dengan paragraf selanjutnya. Mungkin … terlihat sedikit susah hehe. Tapi tidak masalah kok. Aman itu.

Mulailah dengan Kata Mutiara

Owh … kata mutiara untuk sekarang bukan lagi hanya sekadar kata yang menyejukkan jiwa. Sekarang sudah bisa untuk kalimat pembuka sebuah naskah. Sudah banyak kok contohnya. Kenapa? Terkadang ya … kalimat mutiara ini sangat menarik dan tentunya … menambah poin cerita kita.

Hmm … kata mutiara dari saya kira-kira seperti ini deh. Maaf kata-katanya kurang sreg.

Sebuah lentera di jiwa menusuk kalbu. Akankah siluet datang menyinari kalbu hatiku. Ataukah hanya bayangan hitam yang terus hitam.

Owh owh owh, pastinya Anda semakin penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya? Nggak penasaran? Ya sudah deh, saya gagal membuat kata mutiara � tapi intinya demikianlah. Kata mutiara untuk paragraf pertama? Kenapa tidak? Justru menambah poin.

Mulailah sebuah Deskripsi Tempat yang Wah

Ingat harus wah ya, harus wah. Kalau tidak wah, tidak menarik bahkan terkesan biasa-biasa saja. Meskipun tempatnya biasa saja ya harus buat wah. Hmm saya usahakan dulu ya buatnya.

Contoh deskripsi tempat biasa saja:

Sebuah pantai yang sangat cerah dengan mentari. Angin sepoi-sepoi terkadang ombak kecil bermunculan. Hah … tempat yang pas untuk menenangkan diri.

Hmm … coba kalau diubah menjadi deskripsi tempat yang wah:

Hati yang pilu, mungkin tempat ini yang pas. Cuaca yang cerah mungkin akan melunturkan sedih di dada. Pemandangan yang dibaluti air berwarna biru mungkin bisa menyejukkan hati ini. Angin sepoi-sepoi mungkin bisa menemaniku yang sendiri ini.

Haha kira-kira seperti itulah. Maka dari itu, memilih deskripsi tempat yang wah harus benar-benar dipikirkan. Jangan asal deskripsi aja dong, ok.

Mulailah dengan Kesedihan

Sebuah cerita yang menarik tentunya mengangkat cerita yang menyedihkan terlebih dahulu baru senang kemudian. Ya … rata-rata gitu. Sad dulu baru happy ending. Maka dari itu, kenapa tidak memulai dari kesedihan untuk awal cerita.

Hmm … misalnya seperti ini ya.

Hidup di bawah kolong jembatan dengan makan seadanya. Aku harus menghidupi kedua adikku yang masih kecil dan manja. Kedua orang tuaku telah membuangku bagaikan sampah. Apalagi yang bisa kuharapkan selain senyuman adik-adikku.

Hiks, menyentuh banget bukan. Ya … dengan membuat pembaca merasa tersentuh, maka si pembaca akan penasaran dan akan terus membaca sampai selesai.

Bagaimana? Sudah ada bayangan memulai paragraf pertama Anda dengan lima tips di atas? Selamat mencoba ya. Salam Literasi!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like