Terlalu Melelahkan

By

Nenek Supi sedang bersedih hati. Tekanan darah Nenek Supi tinggi. Sudah kedua kalinya dalam satu bulan ini. “Payah!” desah Nenek Supi. Dia tak sanggup membayangkan jika sakit darah tinggi. Orang sakit darah tinggi harus periksa ke rumah sakit satu bulan sekali.  Tidak! Nenek Supi tidak mau seperti ini.

 Lantas bagaimana sebaiknya? Nenek Supi selalu bercita-cita menjadi nenek sehat dan ceria. Kalau sakit mana mungkin dia bisa ceria?

Dokter berkata bahwa Nenek Supi harus merubah pola hidupnya. Kurangi lemak, garam, serta gula. Dan yang terpenting, Nenek Supi harus mulai berolah raga.

Makan gorengan harus dibatasi, makanan kalengan pun dihindari, dan es krim harus dikurangi. Olah raga, apa yang harus dilakukannya dengan ini? Dokter bilang Nenek Supi harus berjalan kaki setiap hari. Tetapi Nenek Supi tak ingin berjalan kaki.

Dia ingin yoga. Sudah lama Nenek Supi ingin melakukannya. Berdiri  di atas satu kaki seperti bangau atau mengangkat kaki di atas kepala, selalu tampak keren di matanya. Dan dia pun mendaftar di klub yoga sesuai rencananya, mengambil kelas pemula.

Keesokan harinya, saat matahari sepenggalah tingginya, Nenek Supi berangkat ke klub yoga. Ah … hanya Nenek Supi kiranya yang telah berusia senja. Namun itu tidaklah menyurutkan semangatnya.

Setelah berdoa, Nenek Supi diminta memejamkan matanya. Secara perlahan dia diminta mulai mengatur nafasnya, tarik nafas panjang … buang nafas pelan. Hitungan ke tujuh nenek Supi mulai membuka satu matanya. Melirik ke kanan … ke kiri … dan sekitarnya. Nenek Supi mulai bosan melakukannya. Maka saat instruktur yoga meminta untuk membuka mata, dia begitu gembira.

Gerakan selanjutnya ternyata tidaklah lebih mudah bagi Nenek Supi. Dia harus menekuk badan ke depan, ke kanan, dan ke kiri. Semua badannya mulai terasa nyeri! Dan tibalah gerakan yang dinanti, berdiri dengan satu kaki. Nenek Supi mencoba berdiri di atas satu kaki. Apa yang terjadi?

Rupanya tidak mudah. Nenek Supi kehilangan keseimbangan dan bum! Nenek Supi jatuh berdebum. Tapi nenek Supi tidak menyerah. Dia kembali berdiri, mencoba lagi, dan jatuh lagi. Hal itu terjadi  berulang kali. Hingga pada akhirnya,  dia berhasil melakukannya! Nenek Supi bangga pada dirinya, dan dia tersenyum bahagia karenanya.

Saat pendinginan, Nenek Supi diminta tidur terlentang. Kembali dia harus memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Saat itulah pegal-pegal dibadannya mulai terasa. Di punggungnya, di kakinya, … di sekujur tubuhnya. Ototnya menjerit meneriakkan sakit. Namun Nenek Supi tak mendengarnya. Suara dengkurnya lebih keras dibanding jeritan ototnya. Ya, Nenek Supi begitu pulas dalam tidurnya. Dan dalam mimpinya, dia sedang duduk di toko roti langganannya. Menikmati semangkuk besar es krim, sepotong besar mille crepes, dan seloyang silky fruit puding.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like