Tiang Perantara

By

Aku melihat jam dipergelangan tanganku. Masih pagi untuk aku menghadiri rapat pembahasan training motivasi untuk mahasiswa baru. Aku berjalan di koridor kampus menuju gedung F. Benar dugaanku belum ada satupun anggota yang datang. Sebenarnya aku tidak ingin datang terlalu awal. Namun dikarenakan ada kelas pagi, aku memutuskan langsung ke lokasi rapat tanpa harus pulang ke tempat kosku. Aku mengambil buku dari tas ranselku. Aku duduk sambil bersandar di tiang depan ruangan tempat akan diadakan rapat. Aku tenggelam dalam lautan kata disetiap lembarnya.
“Na, sudah dari tadi?” Aku terkejut. Suara laki-laki sudah berada tak jauh dari tempat dudukku. Detak jantungku tiba-tiba bergemuruh tidak karuan. Sosok laki-laki berkemeja biru dan berkacamata ini membuat ada aliran yang berbeda dalam hatiku. Setiap aku bertemu dengannya aku selalu seperti ini. Aku berusaha mengontro kecamuk dalam hati.
“Belum lama, Mas.” Jawabku sedikit gugup. Aku berharap ia tidak menyadari getaran nada dari suaraku. Ia berdiri di dekat pintu. Aku tak begitu jelas kemana arah pandangannya. Kami tidak saling berhadapan. Terpisah dengan tiang tempatku bersandar. Kami tidak banyak bicara. Sepertinya canggung bagi kami bertemu hanya berdua saja.
“Bagaimana untuk teknis training motivasi MABA, sudah siap teknis acaranya?” Ia bertanya untuk mencairkan suasana. Ia adalah ketua pelaksana dari acara ini.
“Rundown acara sudah siap. sedangkan untuk konsumsi, humas dan yang lain nanti langsung saja kita bahas bersama devisinya biar lebih jelas.” Jawabku menjelaskan. Perlahan-lahan aku mulai bisa mengendalikan kecamuk dalam dada ini.
Sebenarnya ini bukan pertama kali aku bertemu dengannya. Meski beda fakultas, kami dipertemukan beberapa kali dalam acara kepanitian. Walaupun begitu, setiap bertemu entah kenapa perasaanku selalu tidak menentu. Aku tak mau menamai perasaan ini. Karena bagiku belum waktunya menggunakan istilah dengan setiap alunan nada dari detak jantung ini.
Aku berusaha mencuri pandang. Ia sibuk membaca proposal yang ada ditangannya. Aku tidak tahu ia benar-benar membaca atau hanya mengalihkan perhatiannya. Aku pun mengambil buku bacaanku. Aku merapat ke tiang agar tak terlihat olehnya. Aku khawatir ia mendengar irama yang terus berbunyi semakin kencang.
Kembali kulihat jam di pergelangan tanganku. Sudah setengah jam tapi rasanya begitu lama. Aku beraharap anggota lain segera datang. Aku mencoba mengintari sekelilingku. Aku belum menemukan sosok yang aku kenal disepanjang koridor gedung ini.
“Naya, maaf terlambat.”Vira tergopoh-gopoh berlari ke arahku. Aku menghela nafas panjang. Lega.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like